Yogyakarta– Jalur pendakian Gunung Merapi masih tertutup rapat karena statusnya yang masih Level III (Siaga). Meski ancaman erupsi seperti awan panas dan guguran lava nyata di depan mata, kenyataannya masih banyak pendaki yang nekat menerobos masuk.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Heri Wibowo, mengakui imbauan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga otoritas kebencanaan, kerap tidak dihiraukan oleh para pendaki.
Secara teknis, TNGM bisa saja meminta bantuan TNI dan Polri untuk menutup akses secara paksa atau melakukan penjagaan ketat. Namun, Heri menegaskan pihaknya sengaja memilih jalan lain.
Pihaknya bisa saja minta bantuan pengamanan, tapi itu hanya solusi jangka pendek.
“Yang kami khawatirkan justru timbulnya benturan horizontal atau konflik dengan warga setempat. Kami ingin menghindari hal itu,” ujar Heri pada Senin (6/7/2026).
Sebagai gantinya, tim TNGM memilih pendekatan ‘adem’ atau persuasif.
Saat ini, petugas tetap bersiaga di kantor Resor Selo sambil terus melakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada warga agar tidak terjadi gesekan di lapangan.
Heri tidak menampik, perilaku sebagian pendaki saat ini cukup menguras kesabaran.
Meski sudah jelas ada larangan dan risiko bahaya yang mengancam nyawa, banyak pendaki yang tetap memaksakan diri menuju puncak.
“Ternyata karakter pendaki kita juga tidak rasional. Jadi, cukup sulit untuk melarang mereka secara langsung,” keluh Heri.
Pihak TNGM dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali menegaskan seluruh jalur pendakian, termasuk jalur populer New Selo menuju Pasar Bubrah, masih ditutup total.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengingatkan, ancaman bahaya berupa guguran lava dan awan panas masih mengarah ke berbagai sektor sungai di lereng Merapi.
Rekomendasi aktivitas pun belum berubah, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta untuk tidak memaksakan diri masuk ke kawasan rawan.
Sependapat dengan hal tersebut, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, juga telah berkali-kali meminta wisatawan untuk menahan diri.
Sultan menilai warga lokal sebenarnya sudah paham batasan aman, namun kekhawatiran justru muncul bagi para pendatang yang kurang peka terhadap tanda-tanda bahaya gunung aktif.
“Harapan saya bagi turis atau pendatang yang mau berwisata, saya mohon jangan naik ke atas,” pesan Sultan. ***

