Badung – Ustaz Ahmad Shodiqin menyampaikan kutbah tentang bulan Safar dalam Salat Jumat di Gedung Serba Guna Al Fattah Sading Mengwi Badung Jumat 10 Juli 2026.
Dalam khutbah Jumatnya, Ustaz Ahmad Shodiqin mengajak jemaah untuk meluruskan pandangan keliru mengenai bulan Safar.
Masih banyak yang meyakini bulan ini sebagai waktu pembawa sial atau malapetaka.
Padahal dalam Islam, tidak ada satu pun waktu—baik hari, bulan, maupun tahun—yang secara zat membawa kesialan.
Waktu adalah makhluk Allah yang sepenuhnya berada di bawah kendali-Nya. Segala pengaruh baik maupun buruk terjadi semata-mata atas izin Allah, bukan karena waktu tertentu.
Secara historis, nama Safar diambil dari bahasa Arab yang berarti kosong.
Dahulu, masyarakat Arab terbiasa meninggalkan rumah mereka untuk berperang atau merantau pada bulan tersebut, sehingga wilayah mereka menjadi kosong.
Jadi, penamaan ini murni berkaitan dengan aktivitas sosial masyarakat saat itu, bukan pertanda nasib buruk.
Rasulullah SAW secara langsung menepis kepercayaan masyarakat Jahiliyah tentang kesialan bulan Safar.
“Beliau tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga mencontohkannya melalui tindakan nyata,” tutur Ahmad Shodiqin.
Banyak peristiwa penting dalam hidup Nabi justru terjadi di bulan Safar, seperti pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah, pernikahan putri beliau Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, serta dimulainya perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah.
Dengan ini, Nabi seolah berpesan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya.
Islam sangat menjunjung tinggi fungsi akal sehat. Sebagai manusia, kita diperintahkan untuk menjalani kehidupan dengan perencanaan matang dan usaha yang nyata (ikhtiar), bukan berpegang pada mitos:
Jika takut sakit: Lakukan pencegahan dan pola hidup sehat.
Jika berdagang: Lakukan perhitungan yang teliti agar terhindar dari kebangkrutan.
Jika belajar: Persiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
Setelah berikhtiar maksimal, barulah kita menyempurnakannya dengan doa dan tawakal kepada Allah SWT.
Sebagai bentuk ikhtiar batin, Ustaz Ahmad Shodiqin menyarankan kita untuk rutin membaca doa perlindungan pagi dan sore hari (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah):
“Bismillāhilladzī lā yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walā fissamāi, wahuwassamī’ul ‘alīm.”
Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada satu pun sesuatu di bumi dan di langit yang bisa memberi bahaya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.)
Keberuntungan sejati bagi seorang mukmin adalah ketika ia mengisi waktu, kapan pun itu, dengan ketaatan kepada Allah.
Sebaliknya, kerugian terjadi jika kita menyia-nyiakan waktu. Jangan biarkan mitos menghambat optimisme kita.
Jadikan bulan Safar sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh, bertobat kepada Allah, dan melakukan kebaikan yang akan mendatangkan kebahagiaan di hari kiamat nanti. ***
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk memanfaatkan setiap detik waktu yang Allah anugerahkan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. ***

