Buleleng– Indonesia punya segudang talenta sepak bola. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan mayoritas usia produktif, Indonesia punya “harta karun” besar untuk menjadi kekuatan sepak bola di Asia, bahkan dunia. Namun, mengapa prestasi kita belum maksimal?
Pengamat pendidikan, Lewa Karma, menyoroti masalah utama sepak bola nasional bukan sekadar kemampuan individu pemain di lapangan. Menurutnya, sepak bola modern kini lebih banyak dimenangkan oleh negara yang sukses membangun ekosistem pembinaan yang solid.
“Sepak bola modern tidak lagi dimenangkan hanya oleh sebelas pemain terbaik, tetapi oleh negara yang mampu membangun ekosistem pembinaan terbaik,” ujar Lewa Karma dalam keterangannya Minggu 19 Juli 2026.
Berkaca dari suksesnya negara seperti Jepang, Jerman, hingga Kroasia, Lewa menegaskan prestasi instan itu tidak ada. Semua butuh cetak biru (blueprint) jangka panjang yang konsisten.
Ia mengusulkan adanya National Football Development Blueprint 2026–2045. Dalam dokumen ini, setiap pihak harus berbagi peran dengan jelas:
PSSI: Fokus sebagai regulator teknis dan operator kompetisi.
Kemenpora: Menyiapkan kebijakan, anggaran, dan pengembangan sport science.
Sekolah & Madrasah: Menjadi basis pembinaan usia dini melalui kompetisi berjenjang.
Perguruan Tinggi: Menjadi pusat riset, nutrisi, hingga psikologi olahraga.
Lewa menekankan pentingnya mengubah paradigma sepak bola adalah industri berbasis ilmu pengetahuan (sport science).
Menurutnya, penggunaan data, teknologi kecerdasan buatan, hingga analisis nutrisi sudah menjadi standar wajib di Eropa untuk meningkatkan performa sekaligus menjaga fisik atlet agar tidak mudah cedera.
“Besarnya populasi tidak otomatis menghasilkan atlet kelas dunia. Keunggulan suatu negara bukan ditentukan oleh besarnya sumber daya, melainkan kemampuan mengelola talenta melalui sistem yang berkualitas,” jelasnya.
Reformasi sistem tak akan berarti apa-apa jika “penyakit lama” masih ada. Lewa secara tegas menyoroti praktik pengaturan skor (match fixing) yang merusak integritas.
Ia mendorong penegakan hukum yang lebih tegas, tidak hanya sanksi olahraga, tetapi juga ranah pidana.
Selain itu, budaya memilih pemain berdasarkan “kedekatan” atau primordialisme harus ditinggalkan. Ia mendesak penerapan sistem meritokrasi, di mana setiap anak bangsa punya kesempatan yang sama berdasarkan kualitas dan performa di lapangan, bukan koneksi.
Mengenai tren naturalisasi pemain keturunan yang sedang berjalan, Lewa melihatnya sebagai langkah positif untuk jangka pendek. Namun, ia mengingatkan agar hal ini tidak dijadikan solusi permanen.
Pembangunan sepak bola tetap harus bertumpu pada pembinaan pemain lokal agar keberhasilan bisa berkelanjutan.
“Mimpi Indonesia menjadi juara Asia dan tampil kompetitif di Piala Dunia bukanlah angan-angan. Tapi, itu hanya akan terwujud jika kita berani membangun tata kelola yang bersih, profesional, transparan, dan berbasis ilmu pengetahuan,” tutupnya.***

