Denpasar – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali mengungkapkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 menunjukkan tren positif yang signifikan. Indeks literasi keuangan di Provinsi Bali tercatat mencapai 78,77%, melampaui angka nasional yang berada di level 69,57%.
Kepala OJK Bali, Parjiman, memaparkan capaian tersebut menempatkan Bali pada peringkat ketiga secara nasional di bawah DKI Jakarta dan Kalimantan Selatan.
Selain literasi, tingkat inklusi keuangan di wilayah ini juga mencatatkan angka yang impresif sebesar 96,24%, mengungguli rata-rata nasional yang tercatat sebesar 93,61%.
Keberhasilan ini, menurut Parjiman, merupakan hasil kerja bersama dari berbagai elemen strategis di daerah.
Pihaknya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah bersinergi dalam mengedukasi masyarakat.
“Alhamdulillah, baik indeks literasi keuangan maupun indeks inklusi keuangan di Bali lebih tinggi daripada nasional. Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah Provinsi serta Kabupaten/Kota di Bali,
Pelaku Usaha Jasa Keuangan, kalangan akademisi, termasuk rekan-rekan media yang selama ini banyak membantu kami melakukan literasi dan edukasi keuangan kepada masyarakat, terutama di wilayah Bali,” ujar Parjiman dalam keterangannya.
Kendati berada di atas rata-rata nasional, OJK Bali menilai tantangan di sektor keuangan ke depan kian kompleks, terutama maraknya ancaman kejahatan keuangan digital, investasi ilegal, hingga pinjaman online (pinjol) ilegal. Oleh karena itu, penguatan edukasi akan terus digalakkan secara berkelanjutan.
Sebagai langkah antisipasi, OJK Bali berkomitmen untuk memperluas jangkauan program edukasi melalui aliansi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang semakin cakap finansial atau well literated.
Tentunya OJK ke depan akan terus melanjutkan berbagai program untuk peningkatan inklusi dan literasi di Bali dengan aliansi strategis bersama berbagai pihak, sehingga dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Harapannya, masyarakat Bali bisa well literated, cakap dalam mengelola keuangan, terhindar dari upaya-upaya penipuan dan bujuk rayu baik investasi maupun pinjaman ilegal, termasuk kejahatan keuangan digital, sehingga pada gilirannya kesejahteraan masyarakat bisa meningkat. Matur suksma,” pungkas Parjiman.***

