Denpsar– Selama periode Januari sampai dengan Juli 2022 transaksi money changer berizin di Bali mencapai Rp4,39 triliun
“Atau rata-rata transaksi bulanannya mencapai Rp627 miliar,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho dari keterangan tertulis Kamis (27/10/2022).
Adapun jumlah rata-rata transaksi tersebut meningkat sebesar
161,25% dibandingkan rata-rata transaksi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai
Rp240 miliar.
Trinso Nugroho melanjutkan, terdapat 532 kantor money changer berizin (103 kantor pusat dan 429 kantor cabang) yang
berada di bawah pengawasan BI Bali telah beroperasi secara normal.
Beririsan dengan emakin tingginya wisatawan asing yang datang ke Bali, menimbulkan risiko semakin banyak
bermunculan money changer tidak berizin.
Dijelaskan Trisno Nugroho, sebagaimana terdeteksi dari pemberitaan dan laporan masyarakat kepada pihak
berwenang.
“Money changer tidak berizin banyak ditemukan di berbagai destinasi tujuan wisata di Bali seperti Kuta,
Legian, Seminyak, Canggu, Sanur, dan Ubud,” ungkapnya.
Trisno Nugroho, menyampaikan money changer tidak
berizin berpotensi melakukan modus penipuan dan digunakan untuk tindak kejahatan pencucian uang serta
pendanaan terorisme.
Hal ini tentu saja dapat mencoreng citra pariwisata Bali.
Menurut Trisno, money changer tidak berizin perlu ditertibkan untuk melindungi industri money changer.
Bank Indonesia bekerja sama dengan pihak berwenang melakukan penertiban money changer tidak berizin di
berbagai tempat telah sehingga dapat membuat jera bagi para pelaku.
“Saya melihat gebrakan-gebrakan yang
dilakukan di Kuta, Legian, Seminyak, Canggu, dan Ubud mulai memberikan efek jera ke money changer tidak
berizin”, sebut mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi DKI Jakarta ini.
Namun, berbagai tantangan masih ditemukan dalam melakukan penertiban money changer tidak berizin.
Tidak semua wisatawan asing memahami bertransaksi valuta asing di money changer berizin. Untuk mengatasi
tantangan tersebut, diperlukan sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak.
“Bank Indonesia, pemda, pelaku
pariwisata hingga desa adat telah membuat mekanisme dalam melakukan penertiban money changer. Sinergi dari
berbagai pihak dibutuhkan untuk menjaga citra positif pariwisata Bali”, imbuh Trisno Nugroho..
Bank Indonesia akan terus melakukan edukasi terutama di tempat-tempat
strategis.
Edukasi kepada pelaku pariwisata, bendesa adat, dan satpol PP yang bertindak sebagai frontliner perlu
digalakkan agar mampu meminimalisir munculnya money changer tidak berizin.
Aspek preventif atau pencegahan
melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi lebih diutamakan, diikuti dengan upaya represif melalui pelaksanaan inspeksi
mendadak atau sidak.
BI Bali telah melakukan berbagai edukasi terkait money changer salah satunya melalui video.
Pembuatan
video edukasi ini diperuntukkan bagi wisatawan asing agar menukarkan valasnya di money changer berizin.
Selain
itu, BI Bali juga berkolaborasi dengan influencer dan komunitas di media sosial, serta membuat flyer, roll banner,
dan akrilik untuk ditempatkan pada daerah tujuan wisata yang memiliki risiko tinggi munculnya money changer
tidak berijin.
Guna meningkatkan layanan digital dalam penyelenggaraan money changer, BI Bali bekerja sama
dengan Afiliasi Penukaran Valuta Asing (APVA) Bali mengembangkan aplikasi penukaran valas
(www.authorizedmoneychanger.id). Aplikasi ini menyediakan informasi lokasi dan nilai tukar dari money changer
Berizin yang ada di wilayah Bali. ***