Peak Season dan Upacara Adat Dongkrak Inflasi Bali Agustus 2026, BI Pastikan Tetap Terkendali

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan tekanan inflasi bulanan utamanya disumbang oleh kenaikan harga komoditas seperti daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar.

2 September 2026, 09:48 WIB

Denpasar -Provinsi Bali mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,61% (mtm) pada Agustus 2026, berbalik arah dari bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,51% (mtm).

Peningkatan ini dipicu oleh momentum peak season pariwisata yang mendongkrak tarif angkutan udara serta lonjakan permintaan bahan pangan seperti daging ayam ras di tengah tingginya aktivitas upacara adat, pernikahan, ngaben, serta normalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pasca libur sekolah.

Secara tahunan, inflasi Bali meningkat dari 2,42% (yoy) pada Juli 2026 menjadi 3,45% (yoy) pada Agustus 2026.

Angka tersebut sedikit berada di atas tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,19%, namun secara keseluruhan masih berada dalam koridor sasaran inflasi nasional di kisaran 2,5±1%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan tekanan inflasi bulanan utamanya disumbang oleh kenaikan harga komoditas seperti daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar.

Di sisi lain, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan berkat penurunan harga pada sejumlah komoditas, termasuk bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, dan t-shirt pria.

“Capaian inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026 tetap terjaga pada rentang sasaran berkat apresiasi dan dukungan terhadap berbagai langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar,” ujar Achris Sarwani di Denpasar, Senin (1/9/2026).

Dari sisi sebaran wilayah, seluruh dari empat kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi bulanan.

Kabupaten Buleleng mencatatkan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,12% (mtm) atau 3,61% (yoy), diikuti Kota Denpasar dengan inflasi bulanan 0,65% (mtm) atau 3,64% (yoy), Kabupaten Badung sebesar 0,35% (mtm) atau 2,86% (yoy), serta Kabupaten Tabanan sebesar 0,33% (mtm) atau 3,59% (yoy).

Lebih lanjut, Achris mengingatkan agar para pemangku kepentingan tetap mewaspadai sejumlah risiko ke depan.

Tantangan tersebut meliputi berlanjutnya permintaan barang dan jasa yang tinggi selama periode puncak kunjungan wisatawan mancanegara pada Juli hingga September, ancaman musim kemarau panjang yang disertai fenomena El Nino kuat terhadap produktivitas pertanian, serta tingginya biaya angkutan barang global yang menekan harga barang impor.

Untuk mengantisipasi berbagai tekanan tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah memperkuat sinergi melalui strategi 4K yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Berbagai program konkret turut dioptimalkan, mulai dari penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, hingga penyaluran bantuan sarana dan prasarana bagi kelompok tani. Melalui langkah-langkah terpadu ini, inflasi Bali sepanjang tahun 2026 diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional. ***

Berita Lainnya

Terkini