Yogyakarta – Pembubaran aksi unjuk rasa oleh ratusan massa Aliansi Masyarakat Sipil yang didominasi oleh mahasiswa di Simpang Empat Jalan Jenderal Sudirman atau Simpang Gramedia, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam, berlangsung tegang dan diwarnai kericuhan.
Aksi yang digelar sejak sore hari itu berujung pada gesekan antara peserta aksi dan sekelompok warga sipil sebelum akhirnya situasi berhasil dikendalikan oleh aparat kepolisian.
Kericuhan bermula ketika massa masih bertahan di sekitar kawasan monumen usai menyampaikan aspirasi sejak pukul 16.20 WIB.
Menjelang malam, situasi mulai memanas ditandai dengan aksi saling dorong antara sejumlah warga dan peserta aksi.
Kabag Ops Polresta Yogyakarta, Kompol Sumalugi, yang berada di lokasi langsung berupaya mencegah meluasnya gesekan dengan meminta warga sipil untuk menjauh dari barisan pengamanan.
“Saya minta rekan-rekan warga yang selain anggota Kepolisian Republik Indonesia, saya minta mundur. Ini mahasiswa sudah bersedia untuk kembali dan minta dikawal. Proses ini kita bantu sama-sama supaya berjalan dengan baik,” ujar Sumalugi melalui pengeras suara di lokasi.
Di tengah ketegangan tersebut, dialog sempat terjadi antara perwakilan warga dan massa aksi. Seorang perwakilan warga berupaya membujuk mahasiswa agar membubarkan diri secara damai demi menghindari bentrokan yang dinilai hanya akan merugikan semua pihak. Warga tersebut juga menawarkan pembentukan forum dialog terstruktur di masa depan agar aspirasi masyarakat dapat tersampaikan secara efektif.
“Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah! Semua kalah kalau ricuh! Ini kan anak-anak kita, adik-adik kita sendiri. Ngapain harus bentrok dengan warga?” ucap perwakilan warga tersebut, seraya berjanji akan menjembatani komunikasi dengan pihak Pemda dan kepolisian.
Namun, dialog tersebut sempat menemui jalan buntu. Perwakilan massa mempertanyakan kejelasan dukungan warga serta meminta agar tuntutan mereka dibacakan terlebih dahulu sebelum membubarkan diri. Perdebatan kian memanas setelah terungkap bahwa warga yang hadir dalam dialog mengaku tidak mengetahui adanya aksi yang telah berlangsung sejak sore hari, sehingga membuat mahasiswa meragukan klaim dukungan tersebut. Kendati demikian, warga tetap mengimbau agar massa mengutamakan keselamatan dan mengakhiri aksi guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sekitar pukul 21.52 WIB, massa aksi akhirnya mulai bergerak ke arah utara secara bergelombang. Sejumlah peserta aksi sempat melaporkan adanya ancaman serta dugaan membawa senjata tajam dari kelompok lain. Situasi kembali memanas sekitar pukul 21.58 WIB ketika kelompok warga dari arah selatan mendatangi massa yang sedang membubarkan diri, yang memicu aksi saling dorong serta pelemparan bubuk merica.
Setelah situasi mereda, aparat kepolisian mulai membuka barikade secara bertahap pada pukul 22.17 WIB. Tiga menit berselang, arus lalu lintas di kawasan Simpang Gramedia yang sebelumnya dialihkan selama aksi berlangsung akhirnya kembali dibuka dan terpantau normal.

