Riset Undiksha Ungkap Kesiapan Gen Z Bali Jadi Orangtua

31 Agustus 2026, 12:44 WIB

Buleleng – Di tengah semakin beragamnya pandangan generasi muda tentang pernikahan dan memiliki anak, kesiapan menjadi orangtua ternyata belum sepenuhnya tinggi di kalangan Generasi Z di Bali.

Hal itu terungkap dalam penelitian tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).

Penelitian bertajuk “Jaga Krama Bali: Analisis Kesiapan Pengasuhan Anak Generasi Z dalam Fenomena Childfree sebagai Tantangan Regenerasi Sosial Budaya di Bali”.

Riset tersebut didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa).

Ketua Tim Penelitian, Ni Putu Okta Ginanti, mengatakan penelitian terhadap 400 responden Generasi Z Bali berusia 18-26 tahun menunjukkan tingkat kesiapan pengasuhan anak berada pada kategori sedang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan menjadi orangtua tidak bisa hanya dilihat dari keinginan seseorang untuk memiliki anak atau tidak.

Dalam penelitian tersebut, tim menemukan sejumlah faktor yang berkaitan dengan kesiapan pengasuhan, mulai dari kondisi ekonomi dan psikologis, pendidikan dan pekerjaan.

Faktor lain yakninpengetahuan mengenai pengasuhan, pasangan, pengalaman keluarga, akses informasi, orientasi terhadap keturunan, nilai adat dan agama, hingga kesehatan reproduksi.

Tim mewawancarai enam informan untuk menggali lebih dalam alasan dan pertimbangan Generasi Z Bali dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga.

Salah satu temuan penelitian ini adalah rendahnya kesiapan mengasuh anak tidak serta-merta membuat seseorang memilih childfree.

“Sebaliknya, keinginan untuk mempunyai anak juga belum tentu menunjukkan seseorang siap segera menjadi orangtua,” ujar Okta Ginanti, Senin (31/8/2026).

Dia menyebut, childfree dalam penelitian ini ditempatkan sebagai konteks perubahan cara pandang generasi muda terhadap pembentukan keluarga, bukan sebagai variabel yang secara langsung diuji.

Persoalan kesiapan tersebut menjadi lebih kompleks di Bali. Sebab, keberadaan generasi penerus tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan adat dan budaya.

Pandangan BKKBN Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali yang turut menjadi bagian dalam pendalaman penelitian memperkuat temuan tersebut.

Kesiapan generasi muda dinilai tidak berhenti pada kemampuan ekonomi atau kesiapan psikologis, tetapi juga menyangkut kemampuan menjalankan tanggung jawab sosial dan budaya.

Okta Ginanti menjelaskan, pembahasan mengenai childfree tidak cukup jika hanya ditempatkan sebagai persoalan pilihan memiliki atau tidak memiliki anak.

“Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana generasi muda mempersiapkan diri jika nantinya memilih membangun keluarga dan menjalankan peran sebagai orangtua,” tutup dia. ***

Berita Lainnya

Terkini