ROOTS – 100 Tahun Perjalanan Walter Spies di Bali Karya Michael Schindhelm Mulai Diputar di Jakarta

Melalui pemutaran film dokumenter-fiksi berjudul "ROOTS: One Hundred Years of Walter Spies in Bali", publik Jakarta diajak "pulang" ke Bali tahun 1925.

4 Mei 2026, 08:10 WIB

Jakarta -Apa jadinya jika sejarah seni rupa, perdebatan kolonialisme, dan estetika Bali bertemu dalam satu cangkir kopi? Suasana hangat itulah yang terekam di Gruham Coffee & Bistro Jakarta, Minggu (3/).

Melalui pemutaran film dokumenter-fiksi berjudul “ROOTS: One Hundred Years of Walter Spies in Bali”, publik Jakarta diajak “pulang” ke Bali tahun 1925.

Film karya sutradara Michael Schindhelm ini tidak hadir dengan narasi sejarah yang kaku.

ROOTS justru tampil berani menggabungkan fakta dokumenter dengan elemen fiksi.

Selama dua jam, penonton diajak menelusuri jejak Walter Spies—seniman kelahiran Moskow berkebangsaan Jerman—yang menjadi sosok kunci di balik modernisasi seni Bali.

Namun, Schindhelm tidak hanya memuja keindahan. Ia menyentuh sisi sensitif tentang bagaimana pariwisata bermula dan bagaimana kuasa budaya bekerja.

Melalui wawancara dengan akademisi hingga aktivis lingkungan, film ini merefleksikan kembali wajah Bali setelah seratus tahun kedatangan Spies.

Menariknya, acara ini tak hanya soal menonton. Kolaborasi antara IWS Indonesia dan ABAS menghadirkan pengalaman multisensori.

Para pengunjung diajak merespon visi Spies melalui sesi melukis bersama dengan medium cat air.

Agus Budiyanto, pendiri ABAS, merasa film ini adalah pengingat penting bagi para kreator masa kini.

“Ini bukan cuma soal sejarah hidup Spies yang multitalenta, tapi bagaimana film ini memicu sensitivitas kita sebagai seniman dalam melihat realita yang sedang terjadi,” tuturnya.

Bagi Anda yang melewatkan pemutaran di Jakarta, jangan berkecil hati. Yudha Bantono, kurator seni yang diberi mandat oleh sang sutradara, menjelaskan bahwa Jakarta hanyalah “pemanasan”.

“Ini adalah awal dari program besar yang puncaknya akan digelar serentak Juli mendatang di Jakarta dan Bandung,” ungkap Yudha.

Namun, dalam waktu dekat, rombongan ROOTS akan segera bertolak ke Jawa Tengah, tepatnya di Yogyakarta dan Magelang pada 6–12 Juni mendatang.

Di sana, diskusi akan semakin tajam dengan kehadiran dua seniman progresif Bali, Gus Dark dan Made Bayak.

Keduanya akan berbagi perspektif tentang bagaimana sejarah seni harus terus dibaca ulang dan didebatkan agar tetap relevan dengan praktik seni kontemporer saat ini.

Jakarta telah memulai percakapannya; kini saatnya kota-kota lain bersiap menyambut narasi sang maestro. ***

Berita Lainnya

Terkini