Badung – Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar, H. Syaifudin Zaini, mengajak umat untuk merefleksikan kembali makna hijrah.
H Zaini menyampaikan itu saat hadir di tengah jamaah warga muslim pada peringatan 1 Muharram Tahun Baru 1448 Hijriyah yang diselenggarakan Yayasan Insan Mulia Al-Fattah, Sading, Mengwi, Badung, pada Senin (15/6/2026).
Dalam tausiyahnya, ia menekankan hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah proses perjuangan yang sangat bernilai di mata Allah SWT.
H. Zaini mengisahkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat saat melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Dia menggambarkan betapa beratnya medan yang ditempuh saat itu, bahkan ada sahabat yang harus berjuang dalam kondisi fisik yang lemah, namun tetap memiliki semangat yang luar biasa untuk berpindah demi ketaatan kepada Allah.
“Yang dinilai oleh Allah itu bukan sekadar hasilnya, melainkan usahanya. Proses itulah yang mahal,” ujar H. Zaini di hadapan para jemaah.
Mengutip pengalamannya, H. Zaini memberikan pandangan menyejukkan bagi umat yang qmungkin sedang menghadapi kegagalan.
Ia menegaskan hasil akhir bukanlah kewenangan manusia. Seseorang yang telah berupaya maksimal—seperti orang yang sudah berniat dan berusaha melakukan ibadah namun belum sampai pada tujuannya—tetap akan mendapatkan pahala atas ikhtiarnya.
“Kalau suatu saat kita gagal dalam merencanakan sesuatu, jangan berkecil hati. Allah tidak menilai hasil akhirnya, tapi proses dan perjuangan kita,” tambahnya.
Dalam ceramahnya, H. Zaini juga mengaitkan semangat hijrah dengan kehidupan modern. Menurutnya, hijrah di masa sekarang bisa dimaknai sebagai upaya untuk terus memperbaiki diri menuju kebaikan yang lebih luas.
Hal ini selaras dengan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an, di mana mereka yang berhijrah di jalan Allah akan diberikan kelapangan dan rezeki yang berlimpah di tempat yang baru.
Ia pun mengajak jemaah untuk bersyukur atas kondisi saat ini dan terus memelihara semangat untuk berbuat lebih baik dari hari kemarin.
“Mari kita jadikan momentum 1 Muharram ini untuk terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik, karena Allah mencatat setiap langkah usaha kita,” tutupnya.
Sementara saat memberi sambutan, Ketua Yayasan Insan Mulia Al-Fattah, Slamet Raharjo, menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Menurutnya, dengan memupuk rasa persaudaraan dan gotong royong, keberkahan akan senantiasa mengiringi setiap langkah umat.
“Melalui momentum Tahun Baru Hijriyah ini, mari kita tingkatkan rasa persatuan bangsa dan kebersamaan. Insya Allah, dengan kebersamaan yang kokoh, kebaikan-kebaikan akan senantiasa datang kepada kita semua,” ujar Slamet di hadapan para jamaah.
Dalam suasana yang hangat tersebut, Slamet juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, khususnya ibu-ibu yang telah bergotong royong menyukseskan acara ini.
Ia berharap segala amal bakti dan kebaikan yang diberikan selama peringatan Muharram ini mendapatkan rida serta rahmat yang melimpah dari Allah SWT.
Menutup sambutannya, Slamet Raharjo memohon maaf apabila terdapat tutur kata maupun hal-hal yang kurang berkenan selama rangkaian acara berlangsung. Ia mengajak seluruh yang hadir untuk menjadikan awal tahun baru Islam ini sebagai refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.
Acara peringatan tahun baru Islam ini berlangsung khidmat, diakhiri dengan doa bersama agar seluruh jemaah yang hadir senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam menjalani aktivitas di tahun yang baru ini**

