Yogyakarta – Di balik kontrakan mungil berukuran 4×6 meter di Kampung Bojongkaso, Cileungsi, lahir sebuah kisah perjuangan yang menggetarkan hati.
Walmer Zebaoth Siburian (18), putra tunggal dari seorang janda penjual gas dan air galon, berhasil menembus Program Studi Teknik Nuklir UGM lewat jalur SNBP.
Tak hanya diterima, Walmer juga memperoleh beasiswa penuh berupa pembebasan biaya kuliah.
Keberhasilan ini buah dari keteguhan sang ibu, Charoline Sihole (52), yang sejak enam tahun lalu membesarkan Walmer seorang diri setelah suaminya meninggal.
Demi bertahan hidup, ia menjual gas, air galon, bahkan sesekali mengojek. “Apa saja saya lakukan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” ucapnya lirih.
Dari Jualan Koran ke Gas Galon Charoline mengenang masa awal merantau bersama suaminya, Wilmar Siburian, pada tahun 2000.
Keduanya dipersatukan lewat pekerjaan sederhana : berjualan koran. Saat era media cetak meredup, mereka beralih menjual air galon dan gas.
Setelah menjadi orang tua tunggal, Charoline kerap mendapat uluran tangan jemaat gereja berupa beras dan uang saku untuk Walmer. Walmer pun tumbuh sebagai anak yang tahu diri.
Sejak SMP hingga SMA, ia terbiasa membawa bekal dari rumah dan membantu ibunya mengantar gas setiap sore. Meski sempat kesulitan di kelas 10, ia bangkit dan konsisten masuk lima besar sejak kelas 11.
Walmer menyimpan dilema besar : ia tak tega meninggalkan ibunya sendirian. Karena itu, ia mendaftar UGM secara diam-diam.
“Saya tahu Mama tidak mau ditinggal. Jadi saya alihkan fokus belajar saja,” katanya.
Momen pengumuman SNBP menjadi kisah haru tak terlupakan. Saat itu, Charoline sedang melayat di rumah duka jemaat gereja. Walmer mengirim pesan singkat: “Ma, aku diterima di UGM. Turut berduka cita ya, Ma.”
Pesan itu membuat Charoline bingung hingga sahabatnya menjelaskan, “Anakmu diterima kuliah di UGM.” Seketika pelukan hangat dan tangis haru pecah di rumah duka.
Kebahagiaan itu sempat bercampur cemas ketika pengumuman UKT keluar.
Charoline panik melihat angka biaya kuliah. Namun Walmer segera menenangkan: “Mama, saya dapat gratis di UGM.”Kabar itu membuat Charoline kembali menangis, kali ini di rumah pelanggan tempat ia mengantar barang.
“Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kuliah di UGM gratis. Itu kuasa Tuhan,” ucap tetangganya.
Kini Walmer bersiap tinggal di Asrama Dharma Putra UGM, sementara sang ibu merelakan kepergian putra semata wayangnya.
“Dia penyemangat diri saya. Saya percaya Tuhan beri yang terbaik. Semoga Walmer mengangkat derajat keluarga,” tutur Charoline dengan mata berkaca-kaca.
Kisah Walmer menjadi bukti keterbatasan bukan penghalang. Dari kontrakan sederhana, lahir mimpi besar yang akan bersinar di kampus kebanggaan bangsa.***

