Alasan Utama Dishub DIY Pasang Portal Regol Ayom Malioboro: Kendalikan Kendaraan Bermotor Demi Kawasan ‘Full Pedestrian’

Dalam rekaman video yang beredar luas pada Minggu, 30 Agustus 2026, warga yang hendak keluar-masuk dari arah Jalan Sosrowijayan menuju Malioboro terpaksa membungkuk sangat rendah atau melompati pagar pembatas

31 Agustus 2026, 16:02 WIB

Yogyakarta – Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) angkat bicara menyusul viralnya video di media sosial yang memperlihatkan kesulitan pejalan kaki, lansia, hingga penyandang disabilitas saat melintas di kawasan Malioboro akibat pemasangan portal Regol Ayom.

Dalam rekaman video yang beredar luas pada Minggu, 30 Agustus 2026, warga yang hendak keluar-masuk dari arah Jalan Sosrowijayan menuju Malioboro terpaksa membungkuk sangat rendah atau melompati pagar pembatas.

Bahkan, seorang perempuan lanjut usia harus dibantu secara dramatis oleh warga karena ketiadaan akses celah serta ketidakmampuan portal untuk dilalui oleh kursi roda.

Malioboro Kawasan ikonik Jogja dengan sirip sebelum dipasang portal regol ayom /dok.oliviarianjani

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menjelaskan kendala di lapangan murni disebabkan oleh masalah teknis dan dinamika penjagaan personel.

Saat insiden terjadi, petugas yang seharusnya bersiaga di lokasi terpaksa bergeser ke sisi utara guna mengurai kepadatan lalu lintas (crowded).

“Insiden kemarin itu karena nyuwun sewu sepertinya yang menjaga agak meninggalkan lokasi ke area sisi utara karena di sisi utara crowded. Jadi, pada saat ada yang mau lewat, kuncinya dibawa, padahal harusnya bisa dibuka,” ujar Erni saat dihubungi pada Senin, 31 Agustus 2026.

Erni menegaskan, prinsip utama penataan kawasan tersebut adalah mengendalikan laju kendaraan bermotor, bukan menyulitkan masyarakat yang berjalan kaki.

Pihaknya mengakui bahwa uji coba ini mengungkap kelemahan pada sarana portal teleskopik yang dipasang terburu-buru sehingga sempat dinilai kurang inklusif.

Yang terpenting kita mengetahui nih kelemahannya. Ternyata kelemahannya kurang ramah disabilitas.

“Memang kemarin sudah kita informasikan, nanti kalau ada pejalan kaki yang jalannya tidak ada, nanti yang tengah akan dibuka. Ini hanya masalah teknis di lapangan. Harusnya petugas standby di situ, tetapi ternyata bergeser,” jelasnya.

Menurut Erni, sarana portal teleskopik tersebut sebenarnya memiliki desain yang fleksibel dan dapat dibuka-tutup secara manual sesuai kebutuhan pejalan kaki maupun pengguna kursi roda. Namun, efektivitas sistem ini sangat bergantung pada kesiagaan petugas di lapangan.

Kalau prinsip sarana tersebut bisa ramah ketika dibuka. Portal teleskopik itu sebenarnya bisa buka. Jadi kan kalau yang dua lengan bisa disambung dan dibuka, kalau yang satu lengan agak dinaikkan.

“Tapi tetap harus ada yang menjaga. Prinsipnya tempat itu harus dijaga karena kita mengutamakan pejalan kaki,” terangnya.

Menyinggung kelanjutan bentuk fisik portal ke depannya—termasuk opsi meninggikan atau mengubah desain—Dishub DIY menyatakan masih mengkaji berbagai masukan konstruktif dari masyarakat sebelum melaporkannya kepada pimpinan untuk evaluasi menyeluruh.

“Sementara masih dalam diskusi kami. Nanti kami matur pimpinan, bilamana berkenan untuk ditinggikan ya perlu upaya nggih. Kami akan matur ke pimpinan kondisi yang terjadi seperti apa. Kita evaluasi sebaiknya gimana. Kami butuh masukan dari teman-teman dan masyarakat semua. Prinsipnya kita support untuk pelaksanaan full pedestrian,” tambah Erni.

Ia membeberkan pengoperasian portal di 13 ruas jalan ini merupakan uji coba komprehensif pertama kalinya. Dalam pelaksanaan operasional tersebut, Dishub DIY mengerahkan puluhan personel yang dibagi dalam tiga shift kerja, serta berkolaborasi lintas instansi dengan Dishub Kota Yogyakarta.

Untuk titik penempatan itu kan ruasnya ada 13 ya, itu 6 personel di area Tugu dan sisanya 20 personel tersebar di lapangan pada titik-titik ruas jalan tersebut.

“Uji coba ini kan baru pertama ini kita operasikan semuanya 13, kita akan lihat seperti apa. Kalau nggak ada uji coba kita tidak mengetahui ada permasalahan apa di lapangan,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini