Yogyakarta – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menegaskan seluruh jalur pendakian ke puncak Merapi masih ditutup total untuk umum.
Peringatan ini muncul setelah banyaknya konten di media sosial yang mengajak orang untuk mendaki gunung teraktif di Indonesia tersebut.
Kepala Balai TNGM, T. Heri Wibowo, menjelaskan penutupan ini bukan tanpa alasan. Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih berada di Level III atau Siaga.
Berdasarkan data terbaru periode 19-25 Juni 2026, Merapi masih aktif menunjukkan erupsi efusif.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak tergiur atau terprovokasi konten media sosial yang mengajak mendaki. Statusnya masih Siaga, jadi mendaki saat ini sangat berbahaya bagi keselamatan,” ujar Heri, Selasa (30/6/2026).
Saat ini, suplai magma di dalam perut gunung masih terus berlangsung, yang berisiko memicu awan panas guguran.
Radius bahaya ditetapkan hingga 7 kilometer dari puncak, terutama di sektor selatan-barat daya dan tenggara.
Jalur populer seperti via New Selo hingga Pasar Bubrah masuk dalam zona sangat berbahaya.
Selain awan panas, lontaran material vulkanik saat letusan eksplosif bisa menjangkau hingga 3 kilometer dari puncak.
Karena risiko yang tinggi, penutupan jalur pendakian ini berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Sebagai alternatif, pihak pengelola menyarankan masyarakat untuk mengunjungi destinasi wisata soft trekking yang berada di zona aman, salah satunya Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang.
Pihak Balai TNGM meminta masyarakat untuk selalu memantau informasi resmi dari BPPTKG dan tidak mudah termakan isu yang tidak jelas sumbernya.
“Tolong patuhi aturan yang ada. Jangan ambil risiko dengan pendakian ilegal, karena keselamatan adalah prioritas utama kita bersama,” tegas Heri.***

