Gunungkidul Darurat Air Bersih, Bupati Endah Laporkan ke Sultan HB X

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih bergerak cepat, melaporkan kondisi darurat ini langsung kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X.

31 Juli 2026, 06:13 WIB

Gunungkidul – Musim kemarau panjang 2026 datang lebih cepat dari perkiraan, meninggalkan jejak kering di ladang dan sumber PDAM Gunungkidul.

Di tengah kabar memilukan warga Rongkop yang harus menjual ternak demi membeli air tangki, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih bergerak cepat, melaporkan kondisi darurat ini langsung kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X.

“Jangan sampai pemerintah kalah duluan dalam menangani kekeringan ini,” tegas Endah, usai Rakordal Triwulan II di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (30/7).

Ia menekankan respons cepat adalah kunci agar anggaran tanggap bencana bisa segera dieksekusi.Gerak Cepat: Dropping Air Bersih dan Apel Darurat pemkab Gunungkidul menggandeng Forkom Pemkab, Polres, Koramil, hingga Polsek untuk memetakan titik rawan dan menyalurkan air bersih.

Skema ini merupakan tindak lanjut dari apel darurat hidrometeorologi yang digelar sejak akhir Juni. Masa tanggap bencana pun diperpanjang agar alokasi dana tetap bisa digunakan.

“Mulai minggu ini sesuai surat kebencanaan, kita perpanjang hingga 1 Agustus,” jelas Endah, menegaskan pemerintah tidak boleh lengah menghadapi ancaman yang semakin nyata.

Untuk memperluas jangkauan distribusi, Pemkab tak hanya mengandalkan anggaran kapanewon, BPBD, dan Belanja Tidak Terduga (BTT). Baznas ikut turun tangan dengan menyediakan penampungan air berkapasitas 5.000 liter di titik-titik strategis.

Langkah ini menyasar warga yang tidak memiliki penampungan pribadi, agar mereka tak perlu berjalan jauh mencari sumber air.

Endah mengungkapkan, kemarau tahun ini lebih berat dibanding tahun lalu. Debit air PDAM menurun, ladang mulai retak, dan kebutuhan harian warga semakin sulit dipenuhi.

“Kemarau lebih awal, lebih panjang, dan lebih berat,” bebernya.Ekskalasi ancaman ini pun sudah disampaikan langsung kepada Ngarsa Dalem.

Endah memastikan dana BTT masih utuh dan siap digunakan untuk dropping air di titik-titik rawan. Peta Wilayah Paling Parah BPBD Gunungkidul mengantongi dana hampir setengah miliar rupiah, sementara tiap kapanewon rawan disokong anggaran setara lebih dari 100 tangki air bersih.

Ponjong dan Saptosari masing-masing menyalurkan lebih dari 50 tangki. Namun, kondisi paling parah dilaporkan di Tepus, Rongkop, dan Panggang.“Yang parah itu Tepus, Rongkop, Panggang,” tegas Endah, sembari menambahkan koordinasi dengan BBWS Serayu Opak sudah dilakukan.

Meski opsi hujan buatan belum diputuskan, ia berharap doa dan kerja sama semua pihak bisa menahan laju krisis.***

Berita Lainnya

Terkini