Ancaman Gadget Tanpa Kontrol Bagi Gen Alpha, Psikolog Ungkap Dampak Kognitif hingga Mental Anak

Berliana menjelaskan lebih lanjut kecanduan gawai dan paparan konten yang tidak terkontrol berpotensi memicu berbagai dampak negatif jangka panjang, mulai dari penurunan fungsi kognitif hingga gangguan psikologis yang serius

7 September 2026, 10:56 WIB

Yogyakarta – Perkembangan teknologi digital yang masif membuat anak-anak dari generasi Alpha sangat mudah mengakses berbagai konten permainan dan video secara mandiri. Kendati demikian, eksplorasi digital yang berlangsung tanpa pengawasan orang tua dinilai berisiko tinggi mengganggu fungsi kognitif hingga kesehatan mental anak di masa pertumbuhan.

Direktur Biro Psikologi Nadilan Yogyakarta, Dr. Berliana Henu Cahyani, mengungkapkan karakteristik generasi Alpha yang sangat dekat dengan teknologi membuat proses eksplorasi konten digital berjalan jauh lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

Menurutnya, jika kemudahan tersebut tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat, anak menjadi sangat rentan terpapar konten yang belum sesuai dengan tahap perkembangan psikologisnya.

“Video-video game itu juga bisa berpengaruh ke mental anak. Apalagi ini anak-anak yang dites itu generasi Alfa, generasi yang melek teknologi,” ujar Berliana di sela kegiatan Tes IQ, Minat Bakat, dan Seminar Parenting di Sekolah Teladan Yogyakarta, Minggu (6/9/2026).

Berliana menjelaskan lebih lanjut kecanduan gawai dan paparan konten yang tidak terkontrol berpotensi memicu berbagai dampak negatif jangka panjang, mulai dari penurunan fungsi kognitif hingga gangguan psikologis yang serius.

Ketika anak melakukan eksplorasi secara berlebihan tanpa adanya batas dan pengawasan yang memadai, kondisi tersebut dapat membuat mereka rentan mengalami overthinking serta kecemasan berlebih.

Atas dasar kondisi tersebut, ia mengimbau para orang tua agar tidak hanya berfokus pada capaian akademik semata. Pengenalan yang mendalam terhadap karakter anak, gaya belajar, potensi intelektual, hingga kondisi kesehatan mental dinilai tak kalah krusial bagi masa depan mereka.

Salah satu langkah preventif konkret yang dapat ditempuh oleh orang tua adalah melalui pemeriksaan psikologis sejak usia dini.

“Tes ini untuk membentengi sebagai upaya preventif bahwa ada potensi dan untuk mengetahui juga bagaimana kesehatan mentalnya,” jelas Berliana.

Selain isu digital, Berliana turut menyoroti berbagai kasus perundungan (bullying) dan perkelahian yang masih kerap ditemukan pada anak usia sekolah menengah.

Permasalahan sosial tersebut sering kali berdampak buruk pada pengucilan sosial hingga hambatan adaptasi anak di lingkungan sekolah. Kendati demikian, ia tetap mengapresiasi berbagai program pencegahan perundungan di sekolah yang kini mulai menunjukkan tren penurunan kasus di lapangan.

“Paling banyak bullying, tapi ya sekarang kan sudah ada program anti-bullying semoga bisa kasus menurun,” tambahnya.

Kegiatan pemeriksaan psikologis yang menyasar peserta rentang usia 10 hingga 25 tahun ini diselenggarakan atas kerja sama strategis antara Lions Club Yogyakarta Kencana Mataram (LCKM) dengan Biro Psikologi Nadilan Yogyakarta.

Project Officer kegiatan, Vita Agustina, menyebutkan  agenda ini dirancang secara inklusif dan holistik. Ketika para anak mengikuti rangkaian tes psikologi, para orang tua secara bersamaan dibekali materi khusus parenting agar pola pendampingan anak di rumah dapat berjalan seirama dengan pendidikan di sekolah.

“Harapan kami tentunya ini untuk mengoptimalkan pendampingan orang tua, juga mempermudah guru dan pengajar supaya anak didik mendapatkan pola pendampingan pendidikan yang lebih optimal,” ucap Vita.

Sementara itu, Presiden Lions Club Yogyakarta Kencana Mataram, Hilda Octavia, mencatat sebanyak 44 peserta dari berbagai tingkatan pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga mahasiswa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut serta dalam kegiatan ini.

Menurutnya, agenda kolaboratif tersebut sekaligus berfungsi sebagai aksi penggalangan dana (fundraising) yang difokuskan khusus pada bidang pendidikan, kesehatan mental, serta pengembangan potensi generasi muda.

Melalui pemetaan potensi yang utuh lewat tes psikologi ini, Hilda berharap para orang tua dapat memberikan dukungan yang presisi bagi anak dalam menghadapi kompleksitas era digital saat ini.

“Ini memang benar untuk umum. Sekolah Teladan memberikan fasilitas tempat pelaksanaan, sedangkan kami berkolaborasi dengan Biro Psikologi Nadilan,” tandas Hilda menutup rangkaian acara. ***

Berita Lainnya

Terkini