Keyakinan Konsumen Bali Menguat pada Juli 2026, Lampaui Tingkat Nasional Berkat Pariwisata dan Stabilitas Harga

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan penguatan keyakinan konsumen ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi daerah yang kuat serta inflasi yang terjaga dengan baik.

22 Agustus 2026, 04:52 WIB

Denpasar— Optimisme masyarakat Pulau Dewata terhadap perekonomian menunjukkan tren yang semakin solid. Berdasarkan data terbaru dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Juli 2026 tercatat berada di level 126,3.

Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 121,5, sekaligus jauh melampaui IKK nasional yang berada di angka 116,8.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan penguatan keyakinan konsumen ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi daerah yang kuat serta inflasi yang terjaga dengan baik.

Peningkatan IKK Bali pada Juli 2026 mencerminkan semakin kuatnya optimisme masyarakat terhadap perekonomian Bali, setelah sempat menunjukkan tren moderasi sepanjang Semester I 2026.

“Kondisi tersebut sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 yang tumbuh 5,78 persen secara tahunan (yoy),” ujar Achris dalam siaran pers yang dirilis di Denpasar, Jumat (14/8).

Lebih lanjut, Achris merinci bahwa penguatan ini tercermin dari dua komponen utama, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik menjadi 122,3 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang melesat ke level 130,3.

Kenaikan tersebut ditopang oleh tingginya penyerapan tenaga kerja, peningkatan penghasilan masyarakat, serta semaraknya aktivitas ekonomi selama periode liburan sekolah dan rangkaian Hari Raya Keagamaan.

Lonjakan optimisme ini merata di berbagai kelompok pengeluaran, terutama masyarakat dengan tingkat pengeluaran di atas Rp8 juta yang tumbuh 32,5% (mtm).

Selain itu, pekerja di sektor formal maupun informal sama-sama menunjukkan tingkat keyakinan yang tinggi, masing-masing di angka 127,3 dan 124,8.

Di tengah pertumbuhan yang agresif, stabilitas harga menjadi kunci utama penjagaan daya beli masyarakat.

Achris menegaskan inflasi Bali pada Juli 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional, didukung oleh pasokan yang terjaga serta penurunan harga komoditas pangan strategis.

Untuk menjaga momentum positif ini, Bank Indonesia Provinsi Bali berkomitmen memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED).

Berbagai langkah preventif seperti operasi pasar dan kelancaran distribusi pangan akan terus digencarkan.

“Sinergi bauran kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap rendah dan stabil, sehingga menciptakan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan ke depan,” pungkas Achris.***

 

Berita Lainnya

Terkini