Ribuan Garis, Satu Purnama: Jejak Kenangan Perupa Suklu yang Tak Usai

28 Agustus 2026, 10:17 WIB

Denpasar — Sebuah purnama muncul dari hamparan malam yang dibangun bukan dengan sapuan kuas konvensional, melainkan dari ribuan garis kurva yang terus diulang.

Itulah kesan yang ditawarkan I Wayan Sujana Suklu melalui lukisan ‘Malam Temaram’ (2026) yang menjadi salah satu karya dari pameran nasional bertajuk ‘Rupa Jnana Rasmi’ dalam seri ‘Purnama di Bali, Ingatan di Jeju’ yang digelar di Nata-Citta Art Space, Institut Seni Indoneia (ISI) Bali, Denpasar.

Pameran yang diikuti puluhan seniman itu telah dibuka oleh pecinta seni Ida Bagus Sidharta Putra pada Rabu, 26 Agustus 2026 dan bisa dikunjungi masyarakat umum hingga 25 September 2026.

Lukisan ‘Malam Temaram’ berukuran 150 × 195 menggunakan medium acrylic, sodas, dan glue on canvas, menampilkan bidang horizontal yang nyaris seluruhnya dipenuhi repetisi garis lengkung, kurva, dan bentuk menyerupai bulan sabit.

Ribuan tanda kecil itu disusun berulang dalam barisan horizontal hingga membentuk bidang yang padat, ritmis, dan berlapis.

Sekilas, lukisan tersebut menyerupai hamparan malam gelap dengan purnama kuning-oranye di bagian kanan atas. Namun, purnama itu ternyata tidak berdiri sendiri. Permukaannya juga tersusun dari tanda-tanda kecil yang sama dengan elemen yang memenuhi seluruh kanvas.

‘Bulan dilahirkan oleh malam itu sendiri,’ menjadi salah satu kunci membaca karya tersebut. Permukaan lukisan didominasi hitam, cokelat, hijau tua, dan warna-warna tanah. Di tengah warna gelap itu, garis coklat-oranye muncul sebagai elemen dominan, menghadirkan kesan hangat seperti cahaya yang tersisa di dalam malam.

“Repetisi bukan sekadar teknik visual. Pengulangan garis yang sederhana hingga ratusan bahkan ribuan kali melahirkan ritme, tekstur, kepadatan, arah, sekaligus atmosfer,” kara Suklu yang juga pengajar di ISI Bali, kepada media saat pembukaan pameran.

Proses tersebut juga menghubungkan tubuh, waktu, dan kanvas. Setiap garis lahir dari gerakan tangan yang dilakukan berulang-ulang. Waktu penciptaan akhirnya seperti mengendap di permukaan lukisan, menjadikan kanvas sebagai arsip dari gerak tubuh sang perupa.

Kekuatan karya semakin terasa ketika dilihat dari jarak berbeda. Dari dekat, penonton menangkap tanda-tanda kecil. Ketika menjauh, tanda itu berubah menjadi repetisi, kemudian menyatu menjadi medan, gelombang, tekstur, hingga atmosfer malam.

Purnama di sudut kanan atas menjadi jangkar visual sekaligus titik konsentrasi ingatan. Namun, karena dibangun dari bahasa visual yang sama, bulan dan malam dalam karya ini tidak memiliki batas yang tegas.

Konsep tersebut berkaitan erat dengan seri ‘Purnama di Bali, Ingatan di Jej’u. Suklu mempertemukan Bali sebagai ruang tempat purnama dialami dengan Jeju, Korea Selatan sebagai ruang yang hadir kembali melalui ingatan.

Alih-alih menghadirkan lanskap Bali atau Jeju secara literal, karya ini membawa jejak pengalaman. Purnama menjadi pemicu ingatan, ketika bulan yang dilihat di Bali dapat menghadirkan kembali pengalaman tentang Jeju. Dua tempat yang secara geografis berjauhan kemudian bertemu sebagai pengalaman yang hidup dalam kesadaran.

Dalam konteks itu, purnama tidak sekadar menjadi objek astronomis atau elemen dekoratif. Ia menjadi penanda waktu yang menghubungkan malam yang sedang dilihat dengan malam-malam yang pernah dialami.

‘Malam Temaram’ juga menghadirkan kesan seolah malam tidak pernah benar-benar selesai. Repetisi garis bergerak horizontal dan tampak dapat terus berlanjut melewati batas kanvas.

Melalui karya ini, Suklu mempertemukan pengulangan, waktu, ingatan, dan pengalaman tubuh dalam satu bidang visual. Garis yang sederhana, ketika diulang tanpa henti, perlahan berubah menjadi tekstur, atmosfer, lalu menghadirkan purnama.

Pada akhirnya, ‘Malam Temaram’ tidak hanya berbicara tentang bagaimana malam terlihat, tetapi juga tentang bagaimana tubuh mengingat, tangan mengulang, waktu mengendap, dan pengalaman berubah menjadi bentuk.***

Berita Lainnya

Terkini