Pasar Modal Indonesia Masih Berada di Fase Konsolidasi Sepanjang Juni 2026

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai resiliensi dan likuiditas pasar modal dalam negeri secara umum masih terjaga dan manageable.

10 Juli 2026, 10:21 WIB

JakartaPasar modal domestik terpantau masih berada dalam fase konsolidasi sepanjang Juni 2026.

Tekanan ketidakpastian kondisi global, yang diperburuk dengan adanya penyesuaian portofolio oleh investor, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan bulan lalu di level 5.643,19, terkoreksi 7,90 persen secara month-to-month (mtm) atau 34,74 persen secara year-to-date (ytd).

Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi; Agus Firmansyah menjelaskan, meski volatilitas pasar meningkat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai resiliensi dan likuiditas pasar modal dalam negeri secara umum masih terjaga dan manageable.

Indikator likuiditas di pasar saham domestik terlihat dari rata-rata bid-ask spread yang berada di level 1,75 persen.

“Naik tipis dibandingkan bulan Mei 2026 yang sebesar 1,50 persen,” sebutnya dalam keterangan tertulis Kamis 9 Juli 2026.

Sementara itu, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) di pasar saham tercatat sebesar Rp22,23 triliun.

Di tengah kondisi pasar yang dinamis, investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham sebesar Rp19,63 triliun pada Juni 2026, meningkat tajam dibandingkan posisi net sell Rp4,10 triliun pada bulan sebelumnya.

“Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global,” imbuhnya.

Bergeser ke pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 429,85, terkoreksi 1,69 persen mtm.

Rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) turut mengalami kenaikan sebesar 40,00 bps mtm akibat dinamika persepsi risiko global.

Namun, di tengah tekanan tersebut, minat investor asing terhadap instrumen SBN justru mencatatkan net buy sebesar Rp22,43 triliun, berbalik dari posisi net sell Rp3,70 triliun pada Mei 2026.

Lebih lanjut, kinerja industri pengelolaan investasi mengalami moderasi dengan nilai Asset Under Management (AUM) per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.011,81 triliun, turun 3,14 persen mtm.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana juga mencatatkan penurunan sebesar 4,79 persen mtm menjadi Rp652,90 triliun.

Di balik tren konsolidasi tersebut, pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan dari sisi basis investor.

Berkat inisiatif pendalaman pasar yang konsisten, jumlah investor di pasar modal domestik bertambah sebanyak 1,21 juta investor baru pada Juni 2026, sehingga total investor tumbuh 42,22 persen ytd menjadi 28,96 juta investor.

Sebagai motor penggerak ekonomi, peran intermediasi pasar modal dalam menyediakan pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha tetap berjalan optimal.

Hingga akhir Juni 2026, nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp112,67 triliun.

Selain itu, terdapat pipeline  rencana penawaran umum dengan nilai indikatif mencapai Rp15,84 triliun, yang menunjukkan optimisme sektor riil dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. ***

Berita Lainnya

Terkini