Kolaborasi Warga dan Unwar Wujudkan Ruang Serbaguna Partisipatif di Desa Sidetapa

Melalui pendekatan partisipatif masyarakat tidak hanya menerima hasil desain, tetapi juga belajar bersama mengenali kebutuhan ruang dan merencanakan fasilitas publik yang sesuai dengan kebutuhan desa

30 Juli 2026, 20:16 WIB

Buleleng — Potensi sosial dan ekonomi yang melimpah di Desa Sidetapa, Buleleng, kini bersiap didukung oleh fasilitas yang lebih mumpuni. Universitas Warmadewa (Unwar) hadir mendampingi masyarakat setempat merancang ruang serbaguna partisipatif yang adaptif untuk memperkuat berbagai aktivitas komunitas.

Selama ini, beragam kegiatan seperti pelatihan, penyuluhan, hingga forum koordinasi bersama instansi pemerintah dan mitra swasta sering digelar di lantai dasar Kantor Perbekel Desa Sidetapa.

Sayangnya, fasilitas yang ada dinilai kurang optimal akibat keterbatasan kapasitas dan kenyamanan ruang.

Keberadaan kolom struktur di tengah ruangan sempat menjadi kendala tersendiri karena menghambat pandangan peserta ke arah narasumber.

Padahal, tiang-tiang tersebut memiliki fungsi krusial dalam menopang keamanan bangunan dua lantai yang berdiri di atas kontur lahan dengan kelerengan tinggi itu.

Melihat tantangan ini, Tim Dosen Pengabdi Unwar yang terdiri dari pakar perancangan arsitektur, geoteknik, hingga manajemen konstruksi turun tangan sejak Januari hingga Agustus 2026.

Tim multidisiplin ini beranggotakan Nyoman Ratih Prabandari, S.T., M.Ars. (Koordinator Bidang Perancangan Arsitektur), Prof. Dr. Ir. I Nengah Sinarta, S.T., M.T. (Pakar Geoteknik), dan Ir. I Wayan Gde Erick Triswandana, S.T., M.T. (Ahli Manajemen Konstruksi), serta melibatkan mahasiswa Prodi Arsitektur Fakultas Teknik dan Perencanaan Unwar.

Dalam prosesnya, tim menggunakan pendekatan Collaborative Participatory Design (CPD) untuk melibatkan warga secara aktif. Pemerintah desa, tokoh masyarakat, komunitas pengrajin bambu (Bamboo Corner Handicraft), hingga Kelompok Tani Budi Santosa digandeng dalam lokakarya partisipatif untuk menggali kebutuhan ruang secara mendalam.

“Melalui pendekatan partisipatif ini, kami ingin masyarakat tidak hanya menerima hasil desain, tetapi juga belajar bersama mengenali kebutuhan ruang dan merencanakan fasilitas publik yang sesuai dengan kebutuhan desa,” ujar Nyoman Ratih Prabandari, S.T., M.Ars. selaku koordinator tim pengabdi.

Dari diskusi tersebut, terkumpul berbagai masukan mulai dari kebutuhan ruang pameran kerajinan, tempat pelatihan, hingga area rapat rutin dan transfer teknologi pertanian dengan konsep ruang yang fleksibel tanpa mengganggu struktur bangunan.

Dokumen konsep rancangan yang solutif ini akhirnya resmi diserahkan kepada Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, pada 20 April 2026 untuk ditindaklanjuti.

Melalui forum diskusi partisipatif ini, masyarakat diajak mengidentifikasi kebutuhan ruang berdasarkan pengalaman mereka dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan komunitas.

Komunitas pengrajin bambu, Bamboo Corner Handicraft, memberikan masukan mengenai kebutuhan ruang pelatihan, pengembangan desain produk, pameran kerajinan, dan pertemuan dengan mitra usaha.

Sementara itu, Kelompok Tani Budi Santosa juga membantu memberikan masukan terkait kebutuhan ruang untuk rapat rutin, penyuluhan pertanian, transfer teknologi, serta forum koordinasi antarkelompok tani.

Bersama-sama, para peserta lainnya juga mengeksplorasi penataan ruang yang fleksibel sehingga satu ruang dapat dengan mudah bertransformasi sesuai kebutuhan kegiatan.

Selanjutnya Tim Pengabdi akan mengolah ide dan masukan dari hasil diskusi ke dalam bentuk gambaran konsep perancangan. Gambaran konsep perancangan yang ditawarkan tentunya berusaha untuk menyelesaikan permasalahan teknis yang menuntut ruang dengan fungsi adaptif serta memungkinkan bebas kolom agar dapat menampung kapasitas pengguna yang lebih besar tanpa mengurangi kenyamanan saat beraktivitas di dalamnya.

Dokumen ini diserahkan kepada pihak mitra yaitu I Made Sutama, selaku Perbekel Desa Sidetapa pada tanggal 20 April 2026 untuk diproses bersama lebih lanjut.

Kontribusi kegiatan Pengabdian ini tidak berhenti pada produk desain, melainkan menciptakan proses pembelajaran bersama (social learning).

Penerapan pendekatan CPD ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses penciptaan pengetahuan (co-creation of knowledge), bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan.

“Melalui pendekatan partisipatif ini, kami ingin masyarakat tidak hanya menerima hasil desain, tetapi juga belajar bersama mengenali kebutuhan ruang dan merencanakan fasilitas publik yang sesuai dengan kebutuhan desa.” imbuh Prabandari. ***

Berita Lainnya

Terkini