Yogyakarta– Di tengah gemerlap Yogyakarta sebagai ‘Kota Pelajar’, terselip kisah mengharukan dari SMP Gotong Royong di Jalan Tompeyan, Tegalrejo.
Saat sekolah lain dibanjiri ribuan pendaftar, sekolah ini justru harus berjuang ekstra keras. Di tahun ajaran 2026/2027 ini, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hanya diikuti oleh tiga orang siswa baru.
Sekolah yang berdiri sejak 1982 ini memang bukan sekolah biasa. Hampir 100 persen muridnya berasal dari keluarga prasejahtera yang hampir putus sekolah.

Bagi mereka, SMP Gotong Royong adalah pelabuhan terakhir untuk tetap bisa mengenyam pendidikan.
Kepala Sekolah SMP-SMA Gotong Royong, Ame Lita Br Tarigan Sibero, menuturkan bahwa meski jumlah siswa sedikit, semangat belajar tetap harus dijaga.
Pada hari kedua MPLS, Selasa (14/7/2026), sekolah mengajak siswa baru melakukan aktivitas fisik seperti senam tanggap bencana dan senam lantai agar suasana lebih akrab dan menyenangkan.

“Tahun ini memang tantangan berat. Kemarin yang ambil formulir ada lima, tapi yang akhirnya masuk dan daftar ulang hanya tiga orang,” ungkap Ame Lita.
Kondisi fisik sekolah yang berusia puluhan tahun ini pun cukup memprihatinkan. Hingga kini, sekolah belum pernah tersentuh bantuan renovasi dari pemerintah.
Untuk urusan atap bocor atau pondasi yang rapuh, pihak sekolah harus “sambatan” (meminta tolong) kepada donatur pribadi atau CSR perusahaan.
Keterbatasan fasilitas pun menjadi pemandangan sehari-hari. Saat ujian sekolah berbasis daring, sekolah terpaksa meminjam laptop milik guru karena hanya memiliki dua unit perangkat.
“Kami tidak sanggup menyewa perangkat, biayanya terlalu mahal,” tambah Ame.
Tidak hanya fasilitas, kesejahteraan 12 guru di sini pun sangat bergantung pada insentif pemerintah dan tunjangan sertifikasi.
Bagi mereka, mengajar di sini adalah panggilan jiwa untuk “momong” atau mengasuh anak-anak yang hampir kehilangan masa depan pendidikannya.
Di balik segala keterbatasan itu, sekolah ini adalah oase bagi mereka yang sempat “terbuang” dari sistem pendidikan formal karena kendala biaya atau nilai.
Salah satu siswa baru, Dianika Putri (14), mengaku sangat bersyukur bisa diterima di sini.
Setelah sempat berhenti sekolah karena gagal masuk ke sekolah lain, kini ia bisa kembali belajar dengan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Menuju Sejahtera (KMS).
“Saya senang bisa sekolah di sini. Sebelumnya sempat tidak diterima di tempat lain karena nilai kurang, tapi di sini saya dibantu,” ucap Putri dengan wajah ceria.
Kisah SMP Gotong Royong jadi pengingat di balik megahnya pendidikan, masih ada sekolah-sekolah yang bertahan dengan dedikasi tinggi, demi memastikan tidak ada satu pun anak yang putus asa dalam meraih cita-citanya.***

