![]() |
| Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih @2014 |
JEMBRANA – Minat membaca penduduk Indonesia masih sangat rendah bahkan diperkirakan dalam setahun setiap orang hanya membaca satu buku. Berdasar data Unesco, penduduk Indonesia masih dibawah rata-rata negara ASEAN ataupun negara-negara maju dalam urusan membaca buku.
Dalam kurun satu tahun, rata-rata penduduk Indonesia sama sekali tidak membaca buku dan hanya 1 buku yang dibaca. Artinya dari 1000 orang hanya satu orang yang membaca buku, termasuk yang terjadi di Jembrana.
Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih mengatakan hal itu di Gedung Kesenian Bung Karno, Jembrana, Rabu 10 Desember 2014, di hadapan ratusan peserta road show Gemar Membaca di Perpustakaan.
Padahal gemar membaca sangatlah penting, khususnya generasi penerus. Dengan membaca mampu membangun masyarakat yang cerdas, berkualitas, kreatif dan inovatif. “Budaya membaca bukan hanya di saat pendidikan formal saja, tetapi juga sepanjang hidup,” terangnya.
Lewat membaca, akan menambah pengetahuan, memperluas wawasan, menumbuhkan imajinasi dan inovasi serta sangat penting bagi kualitas hidup seseorang. Ditambahkan pula, dari data Unesco, penduduk Indonesia masih tergolong rendah dalam hal membaca.
Dibandingkan negara ASEAN, yang dalam setahun rata-rata satu orang membaca 2-3 buku, Amerika Serikat 20-30 buku dan Jepang antara 10-15 buku pertahunnya. “Sedangkan di Indonesia, satu orang antara 0-1 buku pertahunnya,” sebut Sularsih..
Satu penyebab rendahnya minat baca adalah budaya menonton televisi dan lebih banyak membaca SMS (pesan singkat handphone) atau BBM, hingga media sosial. Hal ini tidak terlepas dari masuknya bermacam gadget yang memberikan akses itu bahkan anak-anak.
Karena itu menurutnya perlu dibangun budaya senang membaca lewat perpustakaan yang ada hingga ke daerah, sekolah dan desa. Berbeda dengan negara-negara di belahan Asia lainnya seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan bahkan Malaysia, loncatan kebudayaan ditopang tradisi ke-aksaraan (baca tulis dan berdialog) yang kuat.
Sedangkan di Indonesia, budaya membaca tergerus perkembangan media televise yang memanjakan masyarakat untuk menonton.
Keberadaan Perpustakaan bila benar didalam mengeloala dan memanfaatkannya, menurutnya akan menjadi salah satu therapi atau jalan keluar dalam menyempurnakan tradisi ke-aksaraan masyarakat, khususnya tradisi membaca. (dar)

