Yogyakarta-Isu ancaman gempa megathrust kembali menjadi sorotan publik di tengah aktivitas erupsi enam gunung berapi di Indonesia yang terjadi secara hampir bersamaan.
Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Departemen Geologi Fakultas Teknik UGM sekaligus mantan Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., menegaskan potensi zona dan lokasi berisiko tinggi akibat gempa megathrust dapat diprediksi secara ilmiah, meskipun kepastian waktu kejadiannya masih menjadi tantangan utama.
Hal itu disampaikan Dwikorita dalam acara Diskusi Pojok Bulak Sumur di Gedung Pusat UGM, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, prediksi wilayah terdampak seperti di selatan Selat Sunda, selatan Jawa, dan barat Sumatra Barat (Siberut) dapat dilakukan, namun akurasi perkiraan waktu berdasarkan metode periode ulang masih sangat bergantung pada kelengkapan data statistik.
“Jadi kalau terkait gempa, mau megathrust, mau bukan megathrust, itu kalau perkiraan zona atau lokasi yang kira-kira terdampak dengan berisiko tinggi, itu bisa diperkirakan, bisa diprediksi. Tapi kejadiannya kapan? Itu yang sulit,” ujar Dwikorita.
Ia menjelaskan, megathrust merupakan zona tumbukan lempeng samudera dan benua berupa patahan naik yang membentang sepanjang ribuan kilometer dari utara Andaman hingga Laut Banda.
Energi dari proses penumbukan ini terakumulasi selama ratusan tahun dan berpotensi memicu gempa bermagnitudo besar serta gelombang tsunami jika dilepaskan sekaligus.
Kendati demikian, Dwikorita menekankan bahwa pemetaan potensi megathrust bukan bertujuan menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai landasan ilmiah untuk merumuskan skenario mitigasi bencana yang matang menggunakan pendekatan worst-case scenario.
Sebagai bentuk konkret kesiapsiagaan, ia mencontohkan pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) yang dirancang tahan gempa hingga magnitudo 8,7 serta siap menghadapi potensi tsunami lebih dari 10 meter.
Bandara ini dipersiapkan sebagai lokasi evakuasi darurat yang mampu menampung ribuan jiwa, menjadikannya salah satu infrastruktur mitigasi perintis di kawasan ASEAN.
“Ini luar biasa, bahkan di ASEAN mungkin baru Yogyakarta yang menyiapkan bandara sekaligus tempat evakuasi,” pungkas Dwikorita saat ditemui sebelumnya di UMY pada Rabu (6/5/2026).***

