Vegetasi Lereng Merapi Terbakar Akibat Awan Panas, Status Gunung Masih Siaga Level III

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), T. Heri Wibowo, membenarkan adanya fenomena titik api akibat paparan material panas Merapi yang membakar tanaman serta vegetasi kering dalam sepekan terakhir.

6 September 2026, 18:58 WIB

Yogyakarta-Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah terp masih tinggi pada Minggu (6/9/2026).

Selain guguran lava pijar yang terus meluncur, material awan panas guguran (APG) dilaporkan telah memicu kemunculan titik api yang membakar vegetasi di area lereng gunung.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), T. Heri Wibowo, membenarkan adanya fenomena titik api akibat paparan material panas Merapi yang membakar tanaman serta vegetasi kering dalam sepekan terakhir.

Menurutnya, pemantauan ketat terus dilakukan guna mengantisipasi perluasan dampak kebakaran tersebut.

“Penyebabnya APG yang membakar vegetasi. Iya betul, sudah beberapa kali. Semoga luncuran tidak sampai vegetasi yang kering jadi masih bisa tetap terkendali,” ujar Heri saat dikonfirmasi pada Minggu 6 September 2026.

Berdasarkan hasil pemantauan intensif yang dilakukan tim lapangan dari empat lokasi pengamatan berbeda—yakni Pos Turgo, Kalikuning/Plunyon, Deles, dan Kalitalang—tercatat ada satu titik asap yang saat ini masih dalam pengawasan ketat petugas.

“Hasil pantauan tim lapangan dari Turgo, Plunyon, Kalitalang, Deles masih ada asap tapi mengecil, semoga terus mengecil. Terpantau 1 titik dari hasil pengamatan di 4 lokasi,” tambah Heri.

Di sisi lain, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menetapkan status Gunung Merapi secara resmi masih berada di Level III (Siaga).

Berdasarkan laporan periode pengamatan Minggu (6/9/2026) pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso melaporkan adanya aktivitas guguran lava yang cukup signifikan.

“Teramati 8 kali guguran lava ke arah Barat Daya (Kali Sat/Putih dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter,” jelas Agus dalam keterangan tertulisnya.

Selain guguran lava, BPPTKG juga mencatat aktivitas kegempaan yang didominasi oleh 29 kali gempa guguran beramplitudo 2 hingga 13 mm. Rekaman instrumen pemantau juga menunjukkan adanya 9 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 2 kali gempa Vulkanik Dangkal, serta 1 kali gempa Tektonik Jauh.

Agus menekankan bahwa data pemantauan instrumental menunjukkan proses suplai magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran lanjutan di dalam area potensi bahaya yang telah ditetapkan.

“Masyarakat kembali diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya, meliputi radius 3 hingga 7 km dari puncak tergantung sektor sungai. BPPTKG juga meminta warga mewaspadai bahaya lahar hujan serta potensi gangguan abu vulkanik,” pungkas Agus.***

Berita Lainnya

Terkini