Sleman – Aksi sekelompok warga yang nekat mendaki hingga ke kawasan Pasar Bubrah baru-baru ini viral di media sosial.
Aksi ini pun langsung direspons cepat Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Keduanya kompak menegaskan bahwa status pendakian di Gunung Merapi saat ini masih ditutup total.
Gunung Merapi saat ini masih berada di Level III (Siaga)
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan, suplai magma di dalam gunung masih terus berlangsung. Kondisi ini membuat aktivitas vulkanik berisiko memicu awan panas guguran sewaktu-waktu.
Berdasarkan rekomendasi terbaru, area berbahaya mencakup sektor selatan-barat daya (seperti Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng) hingga radius 7 km, serta sektor tenggara (Sungai Woro dan Gendol) hingga 5 km.
Bahkan, jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material panas bisa menjangkau radius 3 km dari puncak.
Oleh karena itu, faktor keselamatan menjadi alasan utama mengapa kawasan puncak harus disterilkan dari aktivitas pendakian.
Selain menegaskan larangan pendakian umum, pihak TNGM juga secara resmi menolak rencana warga Dusun Plalangan yang sempat mengajukan permohonan pembukaan jalur pendakian mandiri via Selo.
Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, menyatakan penolakan tersebut dilakukan demi keamanan. Mengacu pada aturan PVMBG, zona dalam radius 3 km dari puncak wajib steril dari segala aktivitas manusia.
“Berdasarkan status aktivitas Gunung Merapi Level III (Siaga), maka aktivitas termasuk persiapan pembukaan jalur pendakian tidak direkomendasikan,” tegas Heri.
Sebelumnya, warganet dihebohkan dengan unggahan akun Instagram @Laharbara yang memperlihatkan pendaki mencapai kawasan Pasar Bubrah—titik yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari puncak Merapi.
Pihak otoritas mengimbau agar masyarakat tidak meniru tindakan tersebut demi keselamatan diri sendiri, terutama saat cuaca buruk atau hujan di area lereng yang berisiko memicu bahaya lanjutan. ***

