Bangun Kewaspadaan, Moeldoko Ingatkan Aksi Terorisme di Indonesia

Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko mengajak semua pihak untuk tetap mengingat aksi-aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, hal itu penting dilakukan agar terus terbangun kewaspadaan terhadap segala bentuk ancaman gangguan keamanan. 

6 Agustus 2022, 18:44 WIB

Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko mengajak semua pihak untuk tetap mengingat aksi-aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, hal itu penting dilakukan agar terus terbangun kewaspadaan terhadap segala bentuk ancaman gangguan keamanan. 

“Saya sepakat kita harus memaafkan aksi-aksi terorisme. Tapi jangan pernah melupakan peristiwa tersebut. Agar kita selalu waspada,” ujar Moeldoko saat menyampaikan sambutan pada peluncuran buku “The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot” dan Peringatan 19 tahun Tragedi JW Marriot 2003, Jum’at (5/8/2022). 

Moeldoko menegaskan, terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan, dan sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama apapun. 

KSP Lakukan Rakor Terkait Percepatan NIB Bagi UMKM

“Apapun alasannya, semua ajaran agama menolak aksi teror. Jadi aksi terorisme tidak bisa berlindung di balik agama,” sambungnya. 

Panglima TNI 2013-2015 ini juga menyampaikan, sejak peristiwa teror bom JW Marriot 2003, pemerintah telah mengadopsi pendekatan Whole of Government untuk melawan terorisme, mulai dari hulu dengan pendidikan, hingga hilir melalui penindakan. 

Secara regulasi, tambah dia, pendekatan tersebut juga diperkuat dengan penerbitan UU No 5/2018 dan Perpres No 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstemisme Berbasis Kekerasan. 

Moeldoko Harap Masyarakat Tingkatkan Produktivitas di Sektor Pertanian

Merujuk kajian LAB45 pada 2021, Moeldoko menyebut, tren serangan teror secara konsisten menurun sejak 2000. Nilai agregat pada Global Terrorism Index juga turun, dari angka 6,55 pada 2022 menjadi 5,5 pada 2021. 

“Nilai lebih rendah, berarti lebih baik. Ini hasil kerja keras pemerintah dan semua pihak dalam melawan terorisme. Pemerintah tidak bekerja sendiri,” jelasnya. 

Pada kesempatan itu, Moeldoko juga memastikan, negara hadir untuk para korban aksi terorisme. Ia mencontohkan, pembayaran kompensasi kepada 215 korban terorisme dan ahli waris, dari 40 peristiwa terorisme masa lalu. Nilainya, sebesar Rp 39 miliar.

Hadir di Bali, New Honda ADV160 Makin Tangguh dan Kaya Fitur

“Saya juga berharap peluncuran buku ini (The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot),  juga menjadi inspirasi kita semua untuk berjuang bersama melawan aksi terorisme,” pungkasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Sony Soemarno penulis buku The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot menjelaskan, proses penulisan hingga penerbitan buku memakan waktu panjang, yakni selama 15 tahun. 

Sony mengatakan, buku tersebut berisi tentang testimoni korban dan mantan pelaku aksi terorisme, serta perjalanan dirinya dalam melakukan program deradikalisasi dari satu lembaga pemasyarakatan ke lembaga lembaga pemasyarakatan lain. 

Kapal Perang India Singgahi Bali, Wagub Cok Ace Menitipkan Pesan Ini

“Semoga buku saya bermanfaat untuk umat. Jangan kita membahas sesuatu yang berbeda, tapi bahaslah sesuatu yang sama,” tutupnya. ***

Artikel Lainnya

Terkini