Gunungkidul – Keterbatasan ekonomi tak menjadi penghalang bagi Fecia Laura Revani (18) untuk meraih mimpi. Putri bungsu dari pasangan buruh tani asal Gunungkidul ini membuktikan dengan kegigihan dan doa, jalan menuju bangku kuliah selalu terbuka lebar.
Kini, Fecia resmi menjadi mahasiswa Program Studi Agronomi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan biaya kuliah gratis.
Perjalanan Fecia menuju UGM tidaklah instan. Ia sempat merasakan pahitnya kegagalan saat dinyatakan tidak lolos seleksi melalui jalur SNBP maupun SNBT.
Namun, gadis asal Padukuhan Tunggul Barat, Semanu ini menolak untuk menyerah. Berbekal semangat belajar yang tinggi, ia mencoba peruntungan terakhir melalui jalur mandiri UM UGM CBT dan berhadir.
Selama bersekolah di SMAN 1 Wonosari, Fecia dikenal sebagai sosok yang aktif. Ia tergabung dalam Patroli Keamanan Sekolah (PKS) hingga menjadi vokalis band sekolah yang berprestasi. Meski sibuk, Fecia punya rahasia sukses: disiplin membagi waktu.
“Jika sedang ujian, saya utamakan akademik. Saat ada waktu luang setelah sekolah, saya cicil belajar materi ujian masuk perguruan tinggi sedikit demi sedikit,” ujar Fecia saat dihubungi, Senin (20/7/2026).
Latar belakang keluarga yang sederhana membuat biaya kuliah sempat menjadi kekhawatiran tersendiri.
Sang ayah, Subyono (51), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan rata-rata Rp1 juta per bulan. Namun, sang ibu, Puji (46), selalu menanamkan keyakinan bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing.
Keyakinan itu terbayar lunas. Setelah mengajukan permohonan subsidi, Fecia berhasil mendapatkan Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen. Dengan beasiswa ini, Fecia dibebaskan dari biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) alias Rp0.
Bagi Fecia, keberhasilannya ini merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan luar biasa kedua orang tuanya. Ia berharap, kisah ini bisa menjadi penyemangat bagi rekan-rekan sebaya lainnya yang tengah berjuang menggapai cita-cita.
“Meskipun saya merasa memiliki banyak kekurangan, saya percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Tetaplah berjuang, jangan mudah patah semangat, dan percayakan prosesnya,” tutup Fecia dengan penuh optimisme.
Kisah Fecia menjadi bukti nyata bahwa status sosial dan ekonomi bukanlah penentu masa depan. Selama ada tekad yang kuat serta dukungan keluarga, mimpi setinggi apa pun tetap bisa digapai. ***

