Cinta di Balik Toga: Kisah Pasangan Suami Istri yang Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM Bersama

Suasana formal pengukuhan dua guru besar UGM mendadak berubah hangat saat keduanya saling melontarkan apresiasi romantis.

13 April 2026, 15:40 WIB

Yogyakarta – Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini menjadi saksi momen yang tidak hanya prestisius, tapi juga menyentuh hati.

Dua akademisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D., dan Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar secara bersamaan.

Yang istimewa, keduanya bukan sekadar rekan sejawat, melainkan sepasang suami istri yang saling bahu-membahu meniti tangga akademik tertinggi.

Suasana formal pengukuhan mendadak berubah hangat saat keduanya saling melontarkan apresiasi romantis.

Prof. Edi, yang dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Rekayasa Pengetahuan, tak ragu menyebut sang istri sebagai sumber kekuatannya.

“Ungkapan terima kasih paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof. Tutik, atas kasih sayang dan pengertian yang selalu diberikan sepanjang perjalanan karier saya,” ucapnya tulus.

Seolah membalas pesan cinta tersebut, Prof. Tutik, yang menjadi Guru Besar bidang Ilmu Kimia, mengakui peran besar suaminya.

“Terima kasih kepada suami tercinta yang selalu memberikan ridho dan doa. Dukungan beliau adalah energi yang membuat saya terus berkarya,” tuturnya.

Di balik momen haru itu, Prof. Edi membawa pesan penting soal masa depan teknologi. Dalam pidatonya, ia mengingatkan bahwa kecanggihan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya soal algoritma yang rumit.

Ia mengibaratkan AI seperti mobil balap. Secanggih apa pun mesinnya, performanya akan memble jika diberi bahan bakar berkualitas rendah.

Selama ini, dunia teknologi terlalu fokus pada “mesin” (model), namun sering lupa pada “bahan bakar” (data).

“Kinerja AI sangat bergantung pada kualitas data latih. Sering kali kegagalan AI di lapangan bukan karena modelnya buruk, tapi karena datanya ‘sampah’,” jelas Prof. Edi.

Ia mendorong pendekatan data-centric agar AI di masa depan lebih akurat dan dapat dipercaya dalam kehidupan nyata.

Jika sang suami berbicara tentang dunia digital, Prof. Tutik memukau hadirin dengan seni merancang molekul untuk kemanusiaan. Ia mendalami senyawa bernaworld.razolina yang ia sebut memiliki potensi besar sebagai obat kanker masa depan dengan efek samping yang lebih minim.

Baginya, bidang kimia sintesis organik yang ia geluti adalah sebuah karya seni. Ia menganalogikannya sebagai architecture of the molecular world

“Sintesis organik itu seperti arsitektur, butuh kreativitas untuk merancang molekul secara bertahap dan terencana,” ungkapnya.

Selain untuk pengobatan kanker, senyawa ini juga unik karena bisa “menyala” (fluoresensi), sehingga dapat berfungsi sebagai detektor zat tertentu dalam tubuh.

Meski masih ada tantangan dalam hal selektivitas, riset Prof. Tutik membuka pintu harapan bagi terapi kanker yang lebih efektif dan cerdas.

Pengukuhan ganda ini menjadi bukti bahwa dedikasi pada ilmu pengetahuan dan keharmonisan rumah tangga bisa berjalan beriringan, menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.***

Berita Lainnya

Terkini