Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, Prof. Dr. apt. Retno Sunarminingsih, M.Sc., Guru Besar Departemen Kimia Farmasi Fakultas Farmasi, tutup usia pada Senin (29/6) di Jakarta dalam usia 74 tahun.
Setelah sempat disemayamkan di Balairung Gedung Pusat UGM untuk penghormatan terakhir oleh para sivitas akademika, istri dari mantan Mendiknas Prof. Bambang Sudibyo ini dimakamkan di Pemakaman Keluarga UGM, Sawitsari, Sleman, pada Selasa (30/6).
Bagi rekan sejawat dan mahasiswanya, Prof. Retno bukan sekadar pengajar, melainkan sosok yang dikenal rendah hati, disiplin, dan sangat visioner.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, mengenang Prof. Retno sebagai pribadi yang selalu memberi inspirasi. Ia sering mengibaratkan manusia sebagai “gelas kosong” yang harus diisi dengan hal-hal bermakna dan mencerahkan.
“Kami bersyukur pernah berdinamika bersama beliau. Segenap ilmu dan karya beliau akan menjadi teladan sekaligus ladang amal yang terus mengalir,” ungkap Rektor UGM penuh haru.
Selama masa baktinya, Prof. Retno meninggalkan warisan yang sangat berarti bagi perkembangan UGM.
Jabatan sebagai Wakil Rektor di berbagai bidang selama periode 2002–2012, pernah diemban oleh Prof Retno.
Beberapa kontribusi nyatanya yang dirasakan hingga saat ini antara lain:
Almarhumah dikenal sosok di balik penyatuan pendidikan diploma yang sebelumnya tersebar di delapan fakultas menjadi satu wadah mandiri.
Selain itu, Prof Retno Sunarminingsih turut menginisiasi berdirinya Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM.
Pembangunan Infrastruktur: Berperan penting dalam kelancaran pembangunan gedung FISIPOL dan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.
Lahir sebagai lulusan Farmasi UGM (1976) dan peraih gelar doktor di almamater yang sama setelah menempuh pendidikan di University of Kentucky, AS, Prof. Retno mendedikasikan lebih dari 35 tahun hidupnya untuk dunia pendidikan.
Bahkan setelah purna tugas, tetap aktif di Senat Akademik dan Dewan Guru Besar Fakultas Farmasi UGM hingga akhir hayatnya.
Dedikasi, kesederhanaan, dan integritas Prof. Retno akan selalu dikenang sebagai inspirasi bagi para peneliti dan pendidik di Indonesia. ***

