Nusa Dua – Sektor pariwisata Bali yang terus menggeliat menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar bagi pelaku usaha lokal, termasuk koperasi dan UMKM. Namun, untuk bisa “naik kelas” dan menjadi bagian dari ekosistem industri pariwisata yang masif, pelaku usaha perlu memahami strategi yang tepat.
Hal itu menjadi sorotan utama dalam acara Gathering dan Sarasehan yang digelar oleh Jejaring Entrepreneur Ngardi Rahayu di Lerina Hotel, Nusa Dua, Sabtu (18/7/2026).
Hadir sebagai narasumber, Dewan Pakar Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Bali Dr. I Gusti Ngurah Ardika menegaskan koperasi memiliki peluang terbuka lebar untuk masuk ke sektor pariwisata, khususnya di kawasan selatan Bali seperti Nusa Dua.
Kawasan Nusa Dua sendiri memiliki sekitar 5.000 kamar hotel, belum lagi kawasan di sekitarnya seperti Benoa dan Sawangan.
“Peluang ini sangat besar, namun tantangannya adalah bagaimana koperasi bisa masuk dan menangkap peluang tersebut,” ungkap Dr. Ardika.
Dr. Ardika menjelaskan, beberapa riset menunjukkan adanya tantangan mendasar yang sering dihadapi UMKM.
Pertama adalah faktor permodalan yang terbatas. Meskipun saat ini banyak perbankan yang menawarkan akses modal, menurutnya, modal saja tidak cukup.
Ia menyoroti dua aspek penting lainnya yang sering kali menjadi hambatan bagi pelaku usaha lokal saat ingin menjalin kerja sama dengan pelaku industri pariwisata besar, yaitu:
Kualitas Produk: Standar kualitas produk harus terjaga agar dapat memenuhi ekspektasi industri perhotelan dan pariwisata.
Kontinuitas: Pelaku usaha harus mampu menjamin ketersediaan barang atau jasa secara rutin.
Sektor pariwisata membutuhkan pasokan yang stabil, mulai dari kebutuhan harian seperti bahan makanan (sayur, telur) hingga jasa pendukung seperti cleaning service dan keamanan.
Untuk bisa menembus pasar pariwisata yang kompetitif, Dr. Ardika mendorong pentingnya diskusi mendalam di internal koperasi. Ia mengapresiasi inisiatif Jejaring Entrepreneur Ngardi Rahayu yang memfasilitasi forum diskusi ini sebagai langkah awal yang strategis.
“Inisiatif ini luar biasa. Koperasi harus mulai mendiskusikan bagaimana menyiapkan diri, baik dari sisi produk maupun kesiapan manajemen, agar bisa masuk dan bersaing di sektor pariwisata,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi yang tepat dan pembenahan di sektor kualitas serta manajemen rantai pasok, diharapkan koperasi dan UMKM lokal dapat menjadi tulang punggung yang mendukung kemajuan industri pariwisata di Bali.***

