Denpasar – Keyakinan masyarakat Bali terhadap perekonomian semakin kokoh. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Juli 2026 menembus angka 126,3, naik dari 121,5 pada bulan sebelumnya, sekaligus melampaui IKK nasional yang tercatat 116,8.
Angka di atas 100 menandakan optimisme, dan Bali kini berada di jalur yang lebih cerah. Peningkatan ini paling kuat dirasakan oleh kelompok pengeluaran di atas Rp8 juta yang melonjak 32,5% (mtm).
Optimisme juga tumbuh di berbagai lapisan, dari Rp2-3 juta hingga Rp7-8 juta. Bahkan pekerja sektor formal (127,3) dan informal (124,8) sama-sama menunjukkan semangat percaya diri menghadapi masa depan.
Lebih rinci, kenaikan IKK didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik menjadi 122,3, serta Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang melesat ke 130,3.
Lapangan kerja, penghasilan, hingga prospek usaha semuanya dipersepsikan lebih baik dibanding enam bulan lalu. Pertumbuhan ekonomi Bali pun sejalan dengan optimisme ini.
Pada Triwulan II 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,78% (yoy), lebih tinggi dari Triwulan I (5,58%) dan melampaui pertumbuhan nasional (5,29%).
Aktivitas konstruksi, perdagangan, pertanian, serta pariwisata yang bergairah di musim liburan sekolah dan hari raya menjadi motor penggerak utama.
Tak kalah penting, inflasi Bali tetap rendah dan terkendali. Pasokan pangan terjaga, harga komoditas strategis menurun, sehingga daya beli masyarakat tetap kuat. Kondisi ini memperkuat persepsi positif terhadap kemampuan konsumsi dan prospek ekonomi ke depan.
“Menguatnya keyakinan konsumen adalah sinyal positif bagi prospek konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi Bali ke depan,” tegas Achris Sarwani, Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali.
Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah terus memperkuat sinergi melalui TP2ED dan TPID, menjaga stabilitas harga lewat operasi pasar, pemantauan komoditas strategis, serta kelancaran distribusi pangan.
Dari sisi moneter, BI menetapkan BI-Rate 5,75%, suku bunga Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50% untuk memastikan inflasi tetap rendah dan stabil.
Dengan fondasi yang kuat, Bali menatap masa depan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan penuh optimisme.***

