Ustaz Fajar Firdausi Ingatkan Pentingnya Berpikir Kritis dalam Belajar Agama

Ustaz Fajar Firdausi menyatakan seorang penuntut ilmu harus memiliki nalar kritis untuk menyaring setiap materi yang disampaikan oleh gurunya.

19 Juli 2026, 06:21 WIB

Badung– Menuntut ilmu bukan sekadar menerima informasi mentah-mentah dari pengajar. Hal inilah yang ditekankan oleh Ustaz Fajar Firdausi dalam kajian Ahad Subuh di Gedung Serba Guna AlFattah Sading, Mengwi, Badung, Minggu (19/7/2026).

Dalam ceramahnya, Ustaz Fajar mengingatkan pentingnya penggunaan akal dalam menyerap ilmu.

Menurutnya, seorang penuntut ilmu harus memiliki nalar kritis untuk menyaring setiap materi yang disampaikan oleh gurunya.

“Tidak semua ilmu bisa langsung diterima begitu saja. Jika ada guru yang menyampaikan sesuatu yang keliru, santri atau murid harus menggunakan akalnya untuk memilah mana yang benar dan mana yang harus diluruskan,” ujar Ustaz Fajar di hadapan para jemaah.

Lebih lanjut, Ustaz Fajar menyoroti pentingnya menjaga akidah di tengah derasnya arus pemikiran yang cenderung liberal atau pluralis.

Ia mengingatkan jemaah agar tidak mudah terpengaruh oleh paham yang menyamaratakan semua agama.

Ia menekankan, konsep toleransi yang benar adalah saling menghormati tanpa harus mengganggu atau mencampuradukkan keyakinan.

Ustaz Fajar secara tegas memperingatkan agar umat Muslim tidak ikut serta dalam ritual keagamaan lain yang sudah menyentuh ranah akidah.

“Ikut serta dalam perayaan yang bersifat ibadah agama lain adalah bentuk pelanggaran akidah. Ini justru bisa merusak keyakinan kita sendiri,” jelasnya.

Ustaz Fajar juga berpesan agar umat Islam senantiasa waspada terhadap fenomena ajaran yang menyimpang.

Ia mencontohkan bagaimana seseorang bisa tersesat jika tidak memiliki landasan ilmu dan akal yang kuat, bahkan meski mereka belajar dari sosok yang dianggap guru.

Diingatkan, seluruh jemaah untuk selalu membentengi diri dengan pemahaman agama yang lurus, tidak mudah tergiur dengan hal-hal yang bersifat fenomenal, serta selalu mengedepankan logika dalam memahami ajaran agar tidak mudah goyah oleh paham-paham yang dapat menyesatkan. ***

Berita Lainnya

Terkini