Denpasar– Membaca buku bukan lagi sekadar membalik halaman dan menyerap informasi, melainkan sebuah pemantik aksi nyata untuk bumi.
Semangat inilah yang digaungkan oleh Bank Indonesia Provinsi Bali melalui Talk Show World Book Day (WBD) 2026 bertajuk “Bali Local Vibes, Global Tribe: Rooted in Local Harmony, Reaching Global Impact” di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar.
Menjadi puncak perayaan hari buku sedunia, acara ini sukses menyatukan ratusan elemen masyarakat—mulai dari perpustakaan daerah, pegiat literasi, guru penggerak, hingga siswa dan mahasiswa—dalam satu visi besar: memperkuat budaya membaca sekaligus menjaga kelestarian alam Pulau Dewata.
Landasan bergerak yang diangkat pun sangat dekat dengan jantung masyarakat Bali, yaitu filosofi Tri Hita Karana.
Melalui lensa literasi, para peserta diajak untuk melihat bahwa menjaga keharmonisan antara manusia, sesama, dan alam adalah kunci utama masa depan ekonomi serta pariwisata Bali.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono H., menegaskan, literasi masa kini harus adaptif.
Menurutnya, esensi literasi terletak pada bagaimana pengetahuan tersebut bertransformasi menjadi tindakan konkret yang berdampak langsung bagi lingkungan sekitar.
Suasana diskusi semakin hidup dengan hadirnya dua sosok inspiratif yang mengupas tuntas aksi nyata mereka di lapangan:
Melati Wijsen (Founder Youthtop Melalui sesi bedah buku Change Starts Now, sosok di balik gerakan Bye Bye Plastic Bags ini membagikan formula tiga langkah miliknya: dream big, inspire others, dan make it happen.
Melati menekankan pentingnya perubahan pola pikir sosial cultural shift) dan memperkenalkan konsep menarik seperti fail-osophy, serta pergeseran dari ego-system menuju eco-system dalam menciptakan keberlanjutan.
Ajung Santhika (Co-Founder ACS Foundation) membawa solusi praktis pengelolaan sampah berbasis Tri Hita Karana lewat komitmen C.I.N.T.A (Cara Inovasi Ngolah Sampah Tanpa Sisa).
Dari proses pemilahan manual, pengolahan organik, hingga pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan insinerator, Ajung mengingatkan perubahan besar selalu lahir dari konsistensi menghadapi tantangan setiap hari.
“Perubahan lahir dari keberanian menghadapi persoalan secara langsung. Setiap tantangan harus dihadapi, dipelajari, dan dijalani secara konsisten setiap hari
Tidak sekadar berbagi cerita, Bank Indonesia Provinsi Bali juga meresmikan langkah konkret untuk memperluas akses membaca masyarakat.
Salah satu terobosan utamanya adalah peluncuran B.I.L.S. (Bank Indonesia Literacy Space) yang bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Bali, dibarengi dengan penyerahan hibah buku.
Kemeriahan acara juga dilengkapi dengan hadirnya Perpustakaan Keliling bersama komunitas Bali Book Party, edukasi kebanksentralan dan QRIS, kuis peduli lingkungan, serta kolaborasi apik bersama Duta Bahasa Provinsi Bali.
Melalui sinergi erat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas, momentum World Book Day 2026 ini diharapkan menjadi batu loncatan lahirnya generasi baru Bali yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap bumi. Seperti sebuah pesan reflektif yang menggaung indah di akhir acara:
Literasi membuka pikiran, aksi menciptakan perubahan. Ketika pengetahuan bertemu kepedulian, maka lahirlah masa depan Bali yang berkelanjutan. ***

