Dua Ahli Waris Tanah yang Dipagari Kawat Berduri Berbeda Pandangan

30 April 2016, 05:00 WIB

Wayan%2BSusrama%2Bmenunjukan%2Bbukti%2Bakte%2Bjual%2Bbeli%2B%2528Kabarnusa%2529

Kabarnusa.com – Dua orang ahli waris atas tanah yang merupakan bersaudara kandung saat mediasi mediasi terkait pemagaran tanah oleh Gede Surya Hermawan (35) yang akan dibagun jalan Desa Yehembang justru berbeda pandangan.

I Ketut Siandana, seorang ahli waris kepada Perbekel Yehembang I Made Semadi mengatakan, yang melakukan pemagaran tanah adalah Gede Surya Hermawan tidak lain adalah keponakannya.

Pemagaran menurut Siandana atas perintah lisan pemilik tanah I Ketut Menu yang tidak lain adalah pamannya.

Menurutnya, Ketut Menu yang berhak atas tanah tersebut karena berdasarkan pipil tanah tersebut tercatat I Ketut Menu sebagai pemilik.

“Jadi saya tidak berhak dan tidak bisa memutuskan masalah ini karena itu milik paman saya,” tegas Siandana, Jumat (29/4/2016).

Meski begitu, Siandana mendukung program pemerintah asalkan jangan sampai merugikan masyarakat sendiri.

Dia juga menyayangkan pihak Perbekel Yehembang yang tidak pernah berkoordinasi dengannya terkait pembangunan jalan desa tersebut.

Pernyataan Siandana dibantah kakak kandungnya I Wayan Susrama.

Susrama mengatakan, tanah tersebut berdasarkan akte jual beli nomer 152 tahun 1963 adalah milik bapak kandungnya, yakni Kayan Tusan (almarhum).

Pada tahun itu, ada aturan yang tidak memperbolehkan seseorang warga memiliki banyak tanah, sehingga dalam akte jual beli tersebut diatas namakan I Ketut Menu, adik kandung dari Kayan Tusan.

Hanya saja, dipastikan dalam akte jual beli itu, ada cacatan tertulis bahwa tanah tersebut diatasnamakan kepada Ketut Menu.

“Mengingat bapak kandung saya sudah banyak memiliki tanah,” tutur Susrama sambil menujukan bukti jual beli dan bukti lainnya.

Jadi menurut Susrama, Ketut Menu itu tidak tahu apa-apa dan tidak berhak atas tanah tersebut.

Demikian juga masalah pembayaran pajak atas tanah tersebut, dia sebagai pewaris tertua atas tanah tersebut yang rutin membayar pajak.

“Jadi saya dukung penuh program desa. Jika perlu besok saya sendiri yang akan membongkar pagar itu agar jalan desa segera bisa dibangun,” tegasnya.

Susrama juga mengatakan tanah tersebut awalnya luasnya 40 are, namun lantaran tergerus air sungai kini tinggal 20 are.

Tanah tersebut juga sudah pernah dijual tiga kali oleh Ketut Menu, namun transaksi selalu batal lantaran ada bukti catatan dalam akte jual beli bahwa pemilik yang sebenarnya adalah Kayan Tusan. Sedangkan Ketut Menu hanya sebagai atas nama atau meminjam nama. (dar)

Artikel Lainnya

Terkini