Ekonom Faisal Basri: Akuisisi Pegadaian, BRI Ingin Masuk Fortune Global 500

4 Maret 2021, 20:28 WIB
Ekonom Senior Faisal Basri/ist

Jakarta – Langkah BRI mengakuisisi Pegadaian dan PNM dinilai sebagai
upaya untuk masuk dalam jajaran fortune Global 500.

“Rencana pembentukan Holding Ultra Mikro tidak ada kaitannya dengan
kesejahteraan rakyat,” tandas Ekonom Senior Faisal Basri dalam keterangan
tertulisnya, Kamis (4/3/2021).

Karena itu, tidak ada hubungannya dengan peningkatan kesehjateraan rakyat.
Sebelumnya juga BRI ingin mengambilalih Danareksa, Bank Century, dan Bank
Bukopin,” ungkapnya.

Tidak ada hubungan langsung antara tata kelola perbankan yang baik dengan
rencana merger. Hal ini bisa dibuktikan, BRI pernah memberikan kredit kepada
kalangan konglomerat.

Faisal juga menilai alasan pemerintah terkait Holding Ultra Mikro yang dapat
memperkuat sektor UMKM tidak tepat. Menurutnya Faisal, seharusnya pemerintah
melakukan konsolidasi di sektor keuangan dengan memperkuat sektor perbankan.

“Namun justru kenyataannya pemerintah sendiri terkesan enggan melakukan
konsolidasi bank-bank miliknya,” ujarnya.

Faisal menilai pemerintah telah gagal mengkonsolidasikan perbankan. Sebab
sejauh ini perbankan hanya mampu menyalurkan kredit tidak sampai 50 persen
dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka ini lebih kecil dibanding dengan negara-negara lain di Asia.

Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini
mengungkapkan, tanpa adanya akuisisi, Pegadaian pun bisa bersinergi dengan
BUMN lainnya. Sebab jika proses merger ini terjadi, maka akan berdampak
terhadap pegawai Pegadaian yang cenderung menjadi ‘anak tiri’.

Sebab, menurut dia perusahaan besarlah yang akan memegang kendali. Aksi ini
juga tidak serta merta bisa menyehatkan BUMN. Akuisisi ini juga akan berdampak
pada akses layanan kepada nasabah, khususnya Pegadaian,” ungkapnya.

Dikatakannya holdingnisasi akan lebih cocok mengarah pada klaster keuangan
bukan klaster UMKM.

Jika ingin membesarkan UMKM, lanjut dia, bukan dengan cara holding, tapi yang
paling penting adalah apa bentuk yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk
menggabung ketiganya.

Selain itu, jika Pegadaian menerbitkan obligasi atau surat utang ratingnya
Triple AAA, artinya obligasi milik Pegadaian lebih murah dari pada pinjaman
BRI. Jika ratingnya bagus, barangkali bisa dapat 5%.

“Bahkan jika Pegadaian go global bonds, ini bisa menunjukan bahwa Pegadaian
tidak punya masalah modal kerja,” imbuhnya. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini