Gubernur Koster : Bali Bangun Aksi Iklim Berbasis Kearifan Lokal, Buka Jalan Ekonomi Hijau

Pertumbuhan ekonomi Bali harus berpijak pada keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Inilah kekuatan Bali yang tidak dimiliki daerah lain,

9 September 2026, 08:22 WIB

Badung – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan aksi iklim di Bali respons terhadap perubahan iklim global, juga bagian integral dari pembangunan berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Pesan itu ia sampaikan dalam Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026 di Hotel Westin Resort, Nusa Dua, Selasa (8/9), melalui paparan bertajuk “Aksi Iklim Bali: Regulasi, Implementasi, dan Peluang Kolaborasi”.

Koster menekankan, filosofi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menjadi pijakan menjaga kesucian dan keharmonisan alam, budaya, serta manusia Bali.

“Pertumbuhan ekonomi Bali harus berpijak pada keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Inilah kekuatan Bali yang tidak dimiliki daerah lain,” ujarnya.

Dalam kerangka itu, aksi iklim Bali dibangun melalui perlindungan hutan, ekosistem pesisir, mangrove, padang lamun, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Kebudayaan Bali menjadi fondasi nilai dan tradisi yang menjaga harmoni antara manusia dan alam. Koster memaparkan aset nyata Bali yang menjadi modal penting ekonomi hijau:Energi terbarukan: 45 MWp PLTS terpasang, 17.225 kendaraan listrik, dan 302 SPKLU di seluruh kabupaten/kota.

Blue carbon: 2.330 hektare mangrove (88% kategori lebat) dan 1.307 hektare padang lamun, berpotensi dikembangkan menjadi kredit karbon biru.

Karbon pertanian: 52.909 hektare sawah organik (82% dari total sawah), modal penting pengembangan soil carbon dan biodiversity credits.

Kehutanan: 131.171 hektare hutan, termasuk hutan lindung dan kawasan konservasi, yang menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menyerap karbon.

Menurut Koster, aset tersebut adalah angka dan peluang ekonomi baru sepanjang dikelola dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik.

Pemerintah Provinsi Bali membuka tiga peluang kolaborasi karbon yang dinilai bankable :Blue Carbon melalui pengembangan mangrove dan padang lamun.

Solar Energy melalui pembangunan PLTS skala besar dengan target awal 300 MWp, berkembang hingga 1.200 MWp. Agricultural Carbon melalui pertanian organik dan pengembangan soil carbon.

“Bali ingin menunjukkan menjaga alam bukan hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Justru dengan menjaga alam, kita membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Koster.

Rob Raffael Kardinal, Chairman Indonesia Carbon Credit and Biodiversity Alliance (ICCBA), mengapresiasi langkah Bali yang dinilai memiliki kombinasi kuat antara alam, budaya, kebijakan, dan masyarakat.

“Bali berpotensi menghasilkan carbon credit dan menjadi contoh bagaimana kredit karbon serta biodiversitas dikembangkan dengan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Rob menambahkan, kolaborasi multipihak menjadi kunci agar potensi Bali dapat diwujudkan menjadi proyek konkret, terukur, dan berstandar internasional.

“Kami siap mempertemukan Bali dengan mitra strategis nasional maupun internasional, sehingga model Bali dapat direplikasi di berbagai wilayah dan negara lain,” tandasnya***

Berita Lainnya

Terkini