Kabarnusa.com –
Gubernur Bali Made Mangku Pastika meyakini masyarakat di Pulau Dewata bijak
dan toleran dalam menyikapi setiap perbedaan termasuk dalam hal tata
upacara sendiri yang berbeda antara satu desa dengan lainnya.
Hal
itu disampaikan Pastika menanggapi rencana mundurnya pelaksanaan Tawur
Agung kesangan yang jatuh pada masa Nguncal Balung. Masalah itu, juga mendapat
perhatian para sulinggih Sabha Purohito.
Pastika menerima rombongan Sabha
Purohito dipimpin Ida Pedanda Gede Putra Bajing di ruang kerja gubernur, Jumat (5/1/2016).
Ida
Pedanda Bajing menyampaikan hasil paruman Sabha Purohitodi Bangli 30
Januari 2016, yang menetapkan tawur agung harus tetap berjalan.
Alasannya, tawur agung kesanga harus dilaksanakan pada sasih kesanga,
bukan di sasih kedasa bulan depannya.
Hal itu, sudah
sesuai lontar Aji Swamendala yang menjelaskan bahwa tawur agung adalah
upacara penting, menyeimbangkan alam menjelang Nyepi.
Pastika
mengapresiasi langkah kedua lembaga keagamaan di Bali itu, yang
memiliki pemahaman sama tentang pelaksanaan upacara tersebut.
Hal itu harus disosialisasi lebih luas ke masyarakat agar tidak menimbulkan kebingungan.
“Perbedaan
yang ada di Bali itu biasanya disikapi dengan bijak oleh masyarakat,
contohnya tiap desa memiliki tata upacara sendiri,” sambungnya.
Perbedaan di masyarakat, tidak sampai menimbulkan perpecahan antara umat.
“Itulah uniknya Bali,” katanya menegaskan.
Karenanya, ke depan jika terjadi perbedaan pendapat memang harus disikapi dengan bijak.
Pastika yakin, masyarakat tidak akan mempermasalahkan karena sudah terbiasa hidup dalam perbedaan.
“Saya kagum dengan masyarakat Bali, semangat pluralisme terjalin dengan baik, sejak dari dulu,” imbuhnya. (kto)

