Kenang Salim Kancil, Menteri Marwan Ajak Peduli Desa dan Lingkungan

3 Januari 2016, 20:41 WIB

Kabarnusa.com – Saat mengenang kematian aktivis lingkungan Salim Kancil warga desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur Menteri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap desa dan lingkungannya.

Keperdulian masyarakat desa terhadap kebijakan aparatur desa yang tidak memihak pada lingkungan daerahnya, harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

“Jika lingkungan rusak, maka berdampak bencana alam dan korban jiwa akan  mengancamnya. Makanya, diperlukan tata kelola alam secara baik dan profesional,” kata Marwan saat menghadiri peringatan 100 hari meninggalnya Salim Kancil, yang menolak penambangan pasir di Desa Selo Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur akhir pekan ini.

Secara pribadi dan atas nama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah, dan Transmigrasi, Marwan sangat berduka. 

“Saya meminta masyarakat mengenang Salim Kancil. Saat mendapat undangan peringatan 100 hari meninggalnya Salim Kancil, saya langsung nyatakan akan hadir dan memberikan dukungan kepada masyarakat agar terus peduli dengan desa dan lingkungannya,” ucapnya.

Dikatakan Menteri Desa, Sosok Salim Kancil perlu mendapat apresiasi atas perjuangannya melawan sikap aparatur daerahnya yang sewenang-wenang merusak lingkungan.

“Dia (Salim Kancil) sadar, dampaknya tidak hanya hari itu saja, tapi generasi mendatang akan bernasib lebih buruk lagi jika lingkungan daerahnya rusak,” tandasnya.

Dengan perlawanan yang diperlihatkan oleh Salim Kancil, maka sudah seharusnya juga diikuti oleh masyarakat lainnya di Indonesia yang melihat ada ketidakberesan di wilayahnya.

“Yang paling penting, perlawananan masyarakat  tidak anarkis dan tidak ada kepentingan pribadi. Harus berdasarkan kepentingan bersama,” sambung Marwan sebagaimana keterangan resminya diterima Kabarnusa.com.
Diketahui, meninggalnya Salim Kancil dilatarbelakangi perselisihan antara para petani yang produksi pertaniannya rusak akibat kegiatan penambangan dan warga yang mencari nafkah dengan menambang pasir. Sekelompok warga propenambangan pasir diduga menganiaya Salim Kancil pada akhir September 2015.

Selain Salim, beberapa orang diduga menganiaya Tosan, petani yang juga menentang aktivitas penambangan pasir. Tosan luput dari maut dan dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis.

Dalam kasus itu, terungkap melibatkan puluhan orang dan salahnya adalah Kepala Desa setempat.

Dalam kasus tersebut, Menteri Desa mengemukakan, masyarakat dan aparat desa harus belajar untuk memahami tata kelola lingkungan.

Sehingga, punya dasar untuk mengkritisi kebijakan aparatur desa yang tidak peduli terhadap warganya. Kemudian masyarakat desa dan aparaturnya, juga harus berani bersikap apabila ada kebijakan dari pemerintah daerah atau pusat yang tidak memihak rakyatnya.

Agar kasus ini tidak terulang lagi, dia menawarkan solusi dengan pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) atau usaha kelompok desa lainnya.

Unit usaha milik desa  yang sumber anggarannya dari dana desa ini, katanya lagi,  berfungsi untuk mengelola berbagai usaha masyarakat, sehingga manfaatnya juga bisa dirasakan bersama.

Keberadaan BUMDesa sebagai wadah penguatan ekonomi pedesaan. Tidak hanya bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat desa, tetapi bertujuan meningkatkan nilai-nilai sosial dan tradisi gotong royong antar masyarakat yang saat ini sudah mulai terkikis.

Marwan di hadapan masyarakat dan keluarga yang ditinggalkannya,  kembali menyatakan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.

“Salim Kancil sosok yang patut dikenang sepanjang masa. Apalagi kematiannya saat bangsa ini sedang bangkit menuju era desa membangun negeri ini,” tutupnya. (ari)

Berita Lainnya

Terkini