PN Singaraja Tolak Praperadilan Penetapan Tersangka Korban Meninggal Tabrak Lari

14 Februari 2017, 10:14 WIB
unnamed
Tim Kantor Hukum Widhi Sada Nugraha korban tabrak lari jalani sidang Praperadilan di PN Singaraja

SINGARAJA – Hakim Pengadilan Negeri Singaraja menolak permohonan Praperadilan atas penetapan tersangka korban meninggal dunia dalam kecelakaan tabrak lari pada (30/9/16).

Kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia terjadi di jalan Seririt-Singaraja, Km. 13-14, tepatnya sebelah barat simpang tiga Kaliasem, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng, sekira pukul 15.45 Wita.

Dalam insiden itu melibatkan pengemudi sepeda motor Honda beat DK 7205 VM Made Agus Widi Saputra dengan kendaraan pick up DK 9859 UR dikemudikan M Imron Arfianto. Dalam perkembangannya, Polsek Banjar justru menetapkan Agus Widi sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan itu.

Lantaran dinilai tidak adil dan ada kejanggalan dalam penetapan status terhadap korban, pihak keluarga melalui Kantor Hukum Widhi Sada Nugraha yakni Nengah Yasa Adi Sussanto, I Nyoman Sumantara, Ni Nyoman Astiti Asih mengajuka permohonan praperadilan.

Akhirnya, sidang Praperadilan digelar dengan termohon Polsek Banjar Buleleng diwakili Kuasa Hukum dari Bidkum Polda Bali Sitty Rafda B. Lubis, I Wayan Kota, I Putu Sutama, dan I Nengah Supelman.

Pada sidang dengan agenda pembacaan putusan Hakim 13 Februari 2017 yakni gugatan Praperadilan Pemohon Made Ardika selaku ayah korban meninggal yang dijadikan Tersangka oleh Termohon Polsek Banjar, ditolak Hakim Tunggal PN Singaraja, I Gede Karang Anggayasa.

Atas putusan itu, Kuasa Hukum pemohon dari Kantor Hukum WIDHI SADA NUGRAHA beralamat Jaln. Tukad Barito Timur Denpasar I Nyoman Sumantaram I Nengah Yasa Adi Susanto dan Ni Nyoman AstitiAsih menyatakan kekecewaannya

“Hakim sepertinya mengesampingkan fakta-fakta persidangan,” ucap Adi Susanto dihubungi, Selasa (14/2/2017). Fakta persidangan yang diabaikan hakim, ketiga saksi yang dihadirkan pemohon dengan tegas menyatakan bahwa posisi korban saat jatuh, berada di as jalan di tengah dengan kepala menghadap ke utara.

Juga sepeda motor korban, kemudian oleh saksi Made Susila dan Hanafi yang dihadirkan Pemohon di pindahkan ke selatan jalan.

IMG 9948
Tim Tim Kantor Hukum Widhi Sada Nugraha bersama keluarga korban 

“Selanjutnya pendapat berbeda justru dari termohon yakni Polsek Banjar menyatakan, bahwa posisi korban ada di selatan dan membuat sketsa TKP seolah-olah posisi korban saat jatuh ada di Selatan jalan dan seolah-olah korbanlah yang mengambil haluan terlalu ke kanan,” jelas Adi Susanto yang akrab disapa Bro Adi itu.

Selain itu, tiga saksi juga menyatakan bahwa merekalah yang menolong korban dan membawa korban ke RS Parama Sidhi dan sopir pick up Arifianto justru melarikan diri dan baru datang 1 jam setelah korban dibawake RS.

“Jadi, kuasa hukum tetap dengan kesimpulannya bahwa yang seharusnya dijadikan tersangka adalah Imron Arfianto pihak lawan yang bertabrakan dengan korban yang setelah kejadian itu melarikan diri,” tandasnya lagi.

Dengan ditolaknya permohonan Praperadilan ini, menurut Bro Adi, maka akan menjadi potret buram penegakan hukum khususnya di wilayah Buleleng.

“Pasalnya, kedepan bila ada kasus laka lantas seperti ini dan bila menimbulkan korban jiwa meninggal dan lawan yang diajak bertabrakan ingin “diselamatkan”, maka jadikan saja tersangka korban yang sudah meninggal dunia,” ucap Bro Adi dengan nada kecewa.

Setelah korban menjadi tersangka, makan akan terbit Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) karena status tersangka akan otomatis Gugur karena yang dijadikan tersangka sudah meninggal dunia sesuai dengan Pasal 77 KUHP.

Meski kecewa dengan putusan hakim, Bro tetap nenghormati dan menerimanya sebab, tidak ada upaya hukum lagi. “Dalam hukum ada asas “Res Judicata Pro VeritateHabetur” yang artinya, putusan hakim harus dianggap benar,” demikian Bro Adi. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini