UNESCO Akui Sembilan Tari Tradisi Bali Warisan Budaya Dunia

13 Desember 2015, 06:03 WIB

Kabarnusa.com
Sembilan tari tradisi Bali yang terbagi dalam tiga golongan berhasil
mendapat pengakuan badan dunia PBB UNESCO sebagai warisan budaya dunia
tak benda sehingga keberadaannya harus dijaga dan tetap dilestarikan.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunnan Manusia dan Kebudayaan Puan
Maharani menyatakan  tiga golongan tari tradisi Bali telah ditetapkan,
masuk daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia.

Keputusan
itu telah disepakati 24 negara anggota Komite AntarPemerintah untuk
Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO (Intergoverment Commmittee
for Safeguarding the Inthangable Culture Heritage UNESCO).

Kata
Puan, penghargaan dunia itu merupakan prestasi bagi Bali dan Indonesia
atas kekayaan budaya yang dimiliki, di mana budaya seperti tari
tradisi Bali sarat akan nilai moral dan keagamaan.

Puan berharap,
agar hal itu semua bisa dimanfaatkan sebagai media untuk melaksanakan
program revolusi mental yang telah dicanangkan kembali oleh Presiden
Joko Widodo.

Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Aswan Yunaz saat hadir dalam Pentas
Seni dan Budaya di Lapangan Renon, Denpasar menyatakan gembiranya atas
kepercayaan dunia terhadap warisan leluhur di Pulau Seribu Pura itu.

“Penghargaan
ini bisa memotivasi dan memberikan dorongan kepada daerah dan
masyarakat di Bali untuk mempertahankan dan melestarikan sembilan tari
tradisi Bali,” kata Aswan di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar Sabtu (12/122/2015) malam.

Dengan
begitu, tari tradisi Bali itu nantinya bisa menjadi daya tarik bagi
masyarakat dan wisatawan lainnya yang berlibur ke Pulau Bali.

“Atas
penghargaan ini, dirayakan bersama dalam gelar seni budaya sebagai
bentuk apresiasi kepada wisatawan dan masyarakat di Bali,” imbuhnya.

Dikatakan,
secara berturut-turut, Indonesia meraih pengakuan dunia  lembaga PBB dimulai Wayang (2003/2008), Batik (2009), Diklat Warisan
Budaya untuk Siswa dakam Kerja Sama degan Musseum Batik Pekalongan
(2009), Angklung (2010), Saman (2011 dan Tas Noken Kerajinan Rakyat
Papua (2012.

Nominasi sembilan tari tradisi Bali itu, digarap
debgan penuh integritas, etos kerja dan gotong royong di bawah
koordinasi Dewan Pelaksana Komite Koodinasi Warisan Dunia Indonesia
Kemenko PMK.

Masuknya sembilan tari tradisi Bali sebagai warisan
budaya dunia tak benda itu disambut positif berbagai kalangan mulai
seniman, budayawan, akademisi dan pemerintah.

Diketahui, Tim
Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembanan Kebudayaan termasuk melibatkan
pakar budaya Gaura Mancacaritadipura yang menyusun berkas Tari Tradisi
Bali sejak tahun 2010-2011.

Penelitian kala itu difasilitasi Gubernur
Bali Made Mangku Pastika, Rektor ISI Professor Wayan Dibia dan mantan
Rektor ISI Denpasar Professor Made Bandem.

Disebutkan, penelitian
dirancang dengan memilih 9 jenis tari Bali dan jenis Wai (Sakral),
Bebali (semi-sakral), Balih-Balihan( tari hiburan) yang ditemukan di 9
Kabupaten Kota di Pulau Dewata, untuk mewakili semua tarian Bali.

Penelitian
melibatkan, penari, komunitas tari Bali, pemuda, pakar, guru, tokoh
adat dna agama, seniman dan budayawan secara luas.

Professor
Wayan Rai mengungkapkan, sembilan jeins tari Bali itu yang diangkat
dalam berkas yakni Rejang Dewa (klungkung), Sang Hyang Dedari
(Karangasem), Baris Upacara (Bangli), Gmabuh (gianyar), Wayang Wong
(Buleleng), Topeng Sidakarya/ Topeng Pejengan (Denpasar), Legong Kraton
(Denpasar), Joged Bumbung (Jembrana) dan Barong Ket Kuntisraya (Badung).
(rhm)

Artikel Lainnya

Terkini