Kabarnusa.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat Gempabumi tektonik yang terjadi di Sumba Barat-Nusa Tenggara Timur berkekuatan 6,6 skala richter (SR) tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Diketahui, gempabumi tektonik terjadi pada Jumat (12/2/2016) ssekira pukul 17.02 WIB berkekuatan 6.6 SR berlokasi : 9.77°LS dan 119.34°BT dengan Kedalaman 10 km
“Gempabumi ini tidak menimbulkan tsunami,” sebut Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Mochammad Riyadi dalam siaran persnya.
Kendati, gempabumi berpusat di pantai selatan Sumba, namun kekuatannya tidak cukup kuat untuk membangkitkan perubahan di dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.
“Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam telah terjadi gempabumi susulan sebanyak dua kali,” sambungnya.
Gempa susulan itu, dengan kekuatan 3.9 dan 3.3. BMKG terus memonitor perkembangan gempabumi susulan dan hasilnya akan diinformasikan kepada masyarakat melalui media.
Berdasarkan hasil analisis tingkat guncangan (shakemap), intensitas maksimum di wilayah Waikabubak mencapai skala VII MMI.
Kemudian, disusul di Waingapu diperkirakan mencapai skala VI MMI, dan di sekitar Bima III-IV MMI. Hal ini sesuai dengan laporan masyarakat yang diterima BMKG bahwa gempabumi dirasakan cukup keras di Bima.
“Sementara ini belum ada laporan informasi kerusakan dikarenakan kesulitan komunikasi dengan wilayah Waikabubak dan Waingapu yang diduga terkena dampak paling parah,” imbuhnya.
Meski demikian, BMKG akan terus memonitor perkembangan dan laporan dari lapangan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Sejauh ini, dari pengamatan penyebab gempabumi dari parameter gempabumi, disebabkan aktivitas subduksi di sekitar pantai selatan Sumba.
Juga, Hasil analisis mekanisme sumber memperlihatkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh aktivitas sesar naik.
Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat, agar tetap tenang dan mengikuti arahan BPBD, serta informasi dari BMKG.
Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami. Agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan yang pada umumnya kekuatannya semakin mengecil. (ari)

