Kagama Bali dan UGM Bekali Mahasiswa KKN: Saatnya Program Desa Lebih Ramah Anak dan Gender

Penasehat Kagama Bali, Anak Agung Gede Putra, menyatakan pemahaman soal keadilan gender sangat penting bagi mahasiswa saat terjun langsung ke desa.

17 Juli 2026, 05:11 WIB

Denpasar– Mahasiswa KKN PPM UGM yang sedang bertugas di 11 titik di Bali mendapatkan bekal ilmu tambahan yang sangat bermanfaat.

Melalui webinar via Zoom pada Sabtu (11/7/2026), mereka diajak mendalami isu literasi gender serta perlindungan anak dan perempuan agar program kerja mereka nanti bisa lebih inklusif dan berdampak luas.

Acara ini merupakan hasil kolaborasi seru antara Kagama Bali bersama para mahasiswa dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Penasehat Kagama Bali, Anak Agung Gede Putra, menyambut hangat inisiatif ini.

Menurutnya, pemahaman soal keadilan gender sangat penting bagi mahasiswa saat terjun langsung ke desa. Namun, ia juga mengingatkan agar mahasiswa tetap luwes dalam beradaptasi.

“Tentu saja, kita tetap harus menghormati budaya lokal. Saat menjalankan program nanti, pastikan untuk selalu merangkul tokoh adat dan masyarakat setempat agar apa yang kita kerjakan bisa diterima dengan baik,” pesannya.

Dukungan serupa juga datang dari DPL UGM, Drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D. Ia menilai, materi literasi gender ini bakal menjadi “amunisi” penting bagi mahasiswa agar program kerja mereka nantinya tidak membeda-bedakan pihak.

“Harapannya, mahasiswa punya kesadaran gender yang kuat, sehingga program kerja yang dirancang bisa melibatkan semua pihak, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa ada batasan,” jelasnya.

Webinar ini menghadirkan Komisioner KPAD Provinsi Bali, I Made Ariasa, sebagai pembicara utama.

Ia memberikan gambaran jujur mengenai tantangan perlindungan anak di Bali saat ini. Sayangnya, kasus kekerasan pada anak—mulai dari fisik, verbal, hingga dunia maya—masih cukup tinggi dan tersebar di berbagai wilayah.

“Modus dan jenisnya pun kian beragam. Untuk itu, KPAD terus berupaya melakukan berbagai langkah, mulai dari pencegahan, penanganan kasus, hingga proses pemulihan bagi korban,” ungkap Made Ariasa.

Selain itu, diskusi makin hidup dengan hadirnya dua narasumber lainnya, yaitu Ima Gita dari Kagama Muda yang juga Project Manager PKBI Bali, serta Th. Triza Yusino dari pengurus Kagama Bali.

Dengan adanya pembekalan ini, diharapkan para mahasiswa KKN UGM tidak hanya sukses menjalankan program kerja, tetapi juga bisa menjadi agen perubahan yang peduli pada isu gender dan perlindungan anak, sembari tetap menjaga harmoni dengan kearifan lokal di Bali.***

Berita Lainnya

Terkini