Lomba Kreasi Pangan Buleleng Angkat Sukun Jadi Kuliner Kekinian

20 Agustus 2026, 14:35 WIB

Buleleng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mendorong pangan lokal tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk tradisional, tetapi juga diolah menjadi produk kuliner yang punya nilai jual.

Dorongan itu diwujudkan melalui Lomba Kreasi Pangan Lokal 2026 yang digelar di lapangan parkir timur Kantor Bupati Buleleng, Kamis (20/8/2026).

Sebanyak 18 peserta dari kalangan pelaku usaha kuliner dan pelajar SMA/SMK jurusan tata boga ambil bagian dalam lomba yang menjadi bagian dari rangkaian Buleleng Festival 2026 tersebut.

Lomba dibuka Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna.

Kegiatan ini digelar Pemkab Buleleng melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan bekerja sama dengan Indonesian Chef Association (ICA) BPC Buleleng.

Peserta dibagi dalam dua kategori. Kategori umum yang diikuti pelaku usaha kuliner ditantang mengolah jukut undis dan sudang lepet. Sementara kategori pelajar SMK mengolah sukun menjadi menu kekinian.

Sutjidra mengatakan lomba tersebut bukan sekadar kompetisi memasak. Menurut dia, pengembangan pangan lokal penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam memperkuat ketahanan pangan daerah melalui percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Kita ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, mengonsumsi, dan mengembangkan pangan lokal sebagai bagian dari budaya hidup sehat sekaligus penguatan ekonomi daerah,” ujar Sutjidra.

Sutjidra menegaskan bahan yang digunakan peserta harus berasal dari produk lokal Buleleng. Bahkan, juri dari ICA terlebih dahulu mengecek bahan sebelum proses memasak dimulai.

“Tidak boleh ada yang interlokal maupun internasional. Jadi betul-betul ini lokal, sehingga nanti jurinya betul-betul bisa menilai ini apakah asli Buleleng atau nanti impor dari luar,” tegasnya.

Menurut Sutjidra, Buleleng memiliki beragam potensi pangan, mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan hingga perikanan. Namun, potensi tersebut perlu diolah agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Potensi tersebut akan memberikan nilai tambah apabila mampu diolah menjadi produk yang inovatif, memiliki cita rasa yang baik, aman dikonsumsi, bernilai gizi, dan memiliki daya saing di pasar,” ungkapnya.

Ia berharap peserta tidak menjadikan lomba hanya sebagai ajang mengejar juara. Kreasi yang dihasilkan diharapkan bisa dilanjutkan menjadi produk usaha.

“Menang atau kalah bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah lahirnya inovasi baru yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Buleleng,” ujarnya.

Pemkab Buleleng juga menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat ekosistem pangan lokal. Sutjidra menyebut pemerintah akan mendorong pemberdayaan petani dan penguatan UMKM pangan.

Pemkab Buleleng juga berencana menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Buleleng agar hotel dan restoran ikut menyerap produk UMKM serta menggunakan bahan pangan lokal. ***

Berita Lainnya

Terkini