Dituding Inkonsisten Soal Reklamasi, Ini Jawaban Gede Pasek

6 Februari 2016, 06:16 WIB

Kabarnusa.com – Merasa mendapat serangan lewat foto yang diuplod dan disebar lewat sosial media terkait sikapnya yang dinilai tidak konsisten menyikapi rencana reklamasi Teluk Benoa, anggota DPD RI Gede Pasek Suardika angkat bicara. Dia melihat ada upaya yang dilakukan jaringan pro reklamasi dengan memanipulasi pernyataan dan mengembangkan opini mengarah serangan individu kepadanya.

Berikut penjelasan Pasek yang telah diunggah lewat sosial media facebook, baru-baru ini.

“Hari ini, jaringan pro reklamasi mengupload foto berita yang berisi pernyataan saya saat pertemuan di Kantor Gubernur pada 13 Maret 2015 saat Rapat Koordinasi bersama Gubernur, DPRD Bali dan kepala daerah kabupaten kota,” tulis Pasek.

Menurutnya, pernyataan dan opini yang ingin dikembangkan adalah bahwa dirinya dulu setuju reklamasi dan sekarang kok getol menolak. Daripada dijadikan sarana untuk menyerang sebuah sikap inkonsisten (blackcampaign) maka sebaiknya saya langsung jelaskan.

Pantang untuk takut menanggapi fakta-fakta yang dikaburkan dan tidak dikembangkan secara utuh.
Pada pertemuan tersebut, saya katakan beberapa hal seputar Reklamasi Teluk Benoa:

1. Kalau memang itu betul-betul untuk masyarakat Bali seperti yang selalu diucapkan pemimpin di Bali, kenapa keseluruhan dikelola dan dimiliki oleh investor.

Bhatara uli dije kok baang lahan seluas itu. Kalau investor mengelola berarti itu untuk investor bukan untuk masyarakat Bali.

Kalau Pemprop Bali yang mengambil dan mengelola tentu betul-betul untuk masyarakat Bali selamanya dan apa yang ada didalamnya bisa diatur sepenuhnya.

2. Tetapi sebelum bicara Reklamasi Teluk Benoa, Bali termasuk para pemangku kepentingan harus menyelesaikan dulu urusan reklamasi Pulau Serangan karena itu sampai sekarang terlantar. Bagaimana yang dulu saja janji-janji kepada masyarakat Bali belum berjalan kok sekarang kembali diberikan reklamasi di lokasi yang saling berdekatan.

Dia mengingatkan, jangan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya karena abrasi juga parah di Gianyar sampai Karangasem. Karena itu selama urusan Reklamasi Pulau Serangan belum selesai sebaiknya jangan dulu membicarakan Reklamasi Teluk Benoa

“Itu pernyataan terkait permasalahan reklamasi Teluk Benoa yang saya sampaikan kepada forum rapat,” katanya.

Saat rapat tersebut lalu, Gubernur Mangku Pastika meminta wakil walikota Jayanegara menjelaskan kenapa IMB reklamasi Pulau Serangan belum tuntas. Apakah benar karena IMB dan lainnya masih bermasalah. Dst nya.

“Dalam teks dan konteks pernyataan saya itu adalah sebuah pernyataan yang secara teks dimaknai agar berpikir ulang untuk melaksanakan proyek tersebut dan dalam konteksnya adalah selama urusan reklamasi Serangan belum tuntas maka jangan dulu bicara reklamasi Teluk Benoa,” sambungnya.

“Itulah cara sederhana untuk menolak dengan halus soal proyek tersebut. Jelas kan…? Jadi jangan jualan kampanye secuil sikap tetapi ditutup fakta yang lainnya. Gaya jualan revitalisasi tetapi ijinnya reklamasi seperti itu tidak usah dijual lagi bangun opini,” tukas mantan Ketua Komisi III DPR RI itu.

Pernyataan tersebut, dia sampaikan sebelum ada informasi dan bahan hasil pertemuan dan rapat dengan investor dengan DPD. Karena, dia hanya merespons berdasarkan perkembangan dinamika di waktu itu sekira setahun lalu.

Setelah bertemu investor dan kita bertanya panjang lebar maka semakin jelas bahwa proyek itu harus ditolak. Awalnya, sikap penolakan Pasek cukup disampaikan di forum-forum rapat saja karena secara jabatan memang itu memungkinkan.

Namun, melihat banyaknya informasi yang dimanipulasi ke publik, maka sebagai orang yang lama berkecimpung di media, merasa perlu terus aktif mengkomunikasikan ke publik agar fakta-fakta yang sebenarnya bisa diketahui publik.

Sebab, banyak sekali penyesatan logika yang dibangun dibalik proyek tersebut.

“Jadi bagi yang pro reklamasi silakan Anda maksimalkan psywar Medsos tersebut, tetapi sikap saya tetap tidak akan berubah. Semakin mendalami proyek reklamasi Teluk Benoa makin dalam pengetahuan saya untuk menolaknya,” imbuhnya.

Sembari berseloroh, Pasek menilai upaya “blackcampaign” itu serba tanggung. Bahkan, hal itu dinilai sebagai kebiasaan memanipulasi. Berdalih izin reklamasi untuk pengembangan perekonomian pariwisata namun jualannya revitalisasi perbaikan lingkungan.

“Sekarang mulai panik, kehilangan akal, lalu serang individu. Ya wajarlah, mereka kan para buzzer pekerja reklamasi, walau jauh dari logika, yang  penting  tetap bekerja,” kata Pasek secara terpisah kepada Kabarnusa.com. (rhm)

Berita Lainnya

Terkini