Denpasar – Optimisme konsumen terhadap perekonomian Bali masih terjaga meskipun diwarnai ketidakpastian global. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Provinsi Bali pada Maret 2026 yang berada di level 127,3, lebih tinggi dibandingkan IKK nasional sebesar 122,9.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan meskipun terjadi perlambatan sebesar 2,6% dibanding bulan sebelumnya, penurunan tersebut lebih landai dibandingkan Februari 2026 yang turun 3,6%.
“Optimisme konsumen Bali masih kuat, terutama dari kelompok pendapatan Rp3–4 juta, Rp5–6 juta, dan Rp2–3 juta. Hal ini juga tercermin dari pekerja di sektor formal maupun informal,” ungkap Erwin.
Menurutnya, pelemahan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 140,2 menjadi 124,7 dipengaruhi oleh penurunan prakiraan penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha enam bulan mendatang.
Namun momentum Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri mampu menahan penurunan lebih lanjut.
Data Angkasapura mencatat kunjungan wisatawan ke Bali meningkat 9,6% (mtm) menjadi 892 ribu orang, dengan lonjakan wisatawan domestik sebesar 26,3%.
“Peningkatan kunjungan wisatawan ini mendorong Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik 7,3% menjadi 129,8. Faktor pendorongnya antara lain konsumsi barang tahan lama, penghasilan saat ini, serta ketersediaan lapangan kerja,” tambah Erwin.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar murah, pengawasan harga pangan, dan koordinasi distribusi.
Selain itu, BI mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di 4,75% pada pertengahan Maret 2026.
Pemerintah juga menahan harga BBM per 1 April 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Bali di tengah ketidakpastian geopolitik,” tutup Erwin.***

