Kabarnusa.com- Terdakwa
kasus pembunuhan Engeline Megawe (8), Margriet Christina Megawe mengaku kematian anak
angkatnya itu menjadi awal penderitaan dalam hidupnya.
Curhatan Margriet disampaikan dalam nota pembelaan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali Senin (15/2/2016).
Dihadapan majelis hakim Margriet menyatakan, dirinya berusaha menghadapi cobaan bertubi-tubi yang menghampiri hidupna.
Dia
sangat terluka karena sudah kehilangan anak yang dicintanya kini harus
menghadapi tuduhan keji telah membunuh Engeline, anak angkatnya.
“Tapi,
ternyata kematian anak saya, Engeline, bukanlah akhir dari penderitaaan
saya, namun permulaan dari penderitaan saya,” tuturnya.
Derita
tidak berhenti di sana, dia harus menerima kekejian-kekejian lain berupa
fitnah dan tuduhan membunuh anak sendiri sehingga dituntut pidana bui
seumur hidup.
Karenanya, dia berharap persidangan dapat melihat
dan turut merasakan betapa beratnya kekejian beruntun yang ditimpakan
dan harus dialaminya,
“Saya percaya setelah persidangan berjalan
dengan baik, majelis hakim turut merasakan betapa beratnya perasaan saya
atas kekejian, fitnah, yang ditimpakan kepada saya,” sambungnya.
Kata
dia, sejumlah proses pemeriksaan sudah dilewati dan selama itu pula dia
mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dari penyidik.
Penahanan yang harus dialaminya sangatlah berat dirasakannya.
“Batin saya menjerit. Kenapa saya diperlakukan seperti ini, Tuhan,” ucapnya terbata.
Bagaimana, dia baru saja kehilangan anak lantas dituduh sebagai pembunuh anak sendiri.
“Sekarang
saya ditahan. Apa rencanamu kepadaku ya Tuhan? Mengapa begitu berat
cobaan yang Kau timpakan kepadaku. Namun saya tetap percaya bahwa Tuhan
itu adil,” imbuhnya.
Sebagai umat beragama, dia percaya bahwa
Tuhan Maha Adil sehingga dia yakin suatu saat akan mengembalikan
keadilan melalui majelis hakim. Dia meminta keadilan yang seadil-adilnya.
“Kalaupun diizinkan-Nya saya mengalami hal-hal yang tidak adil, pasti Tuhan akan membalas semuanya,” tutupnya. (kto)

