Bangli-— Ibadah salat merupakan sebuah kebutuhan ruhani yang seharusnya menjadi prioritas utama dan tidak boleh diremehkan oleh setiap muslim.
Pesan ini disampaikan oleh Ustaz Abdul Kholik Ahmad saat bertugas sebagai khatib Jumat di Masjid Al Muhajirin, Kintamani, Bangli, pada Jumat, 24 Juli 2026.
Di tengah kesibukan dan padatnya rutinitas harian, Ustaz Abdul Kholik mengingatkan tekad serta kesadaran untuk taat kepada Allah sering kali perlahan luntur. Padahal, melalui mimbar Jumat, umat Islam diajak untuk terus memperbarui iman dan ketaqwaan secara bersungguh-sungguh.
Dalam khotbahnya, Ustaz Abdul Kholik menyoroti keistimewaan ibadah salat dibandingkan rukun Islam lainnya. Jika perintah puasa, zakat, hingga haji diturunkan Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw., perintah salat justru diterima langsung oleh Nabi tanpa perantara di Sidratul Muntaha.
Ia mengutip Surat Al-Baqarah ayat 45, yang mengingatkan agar menjadikan sabar dan salat sebagai penolong. Meski ibadah ini terasa berat bagi sebagian orang, hal tersebut tidak menjadi beban bagi hamba yang khusyuk—yakni mereka yang yakin akan bertemu dengan Allah SWT dan kembali kepada-Nya.
Lebih lanjut, khatib juga menceritakan kisah penuh haru dari masa lalu ketika sahabat mulia Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ‘anhu mendatangi rumah Rasulullah saw. dan mendapati beliau sedang bersujud sambil menangis tersedu-sedu dalam waktu yang sangat lama.
Saat ditanya, Rasulullah menjelaskan bahwa Malaikat Jibril baru saja datang menyampaikan kabar cemas mengenai umatnya di akhir zaman kelak, di mana banyak orang yang akan melalaikan dan meninggalkan salat.
Nabi Muhammad begitu mencemaskan umatnya karena dahsyatnya siksaan neraka Sakor yang menanti bagi mereka yang meremehkan ibadah ini, seperti yang terekam dalam Al-Qur’an Surat Al-Muddassir ayat 42–43.
Sebagai langkah konkret membiasakan ibadah ini, Ustaz Abdul Kholik berpesan kepada para orang tua agar mendidik anak-anak mereka menunaikan salat sejak usia dini.
Berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw., anak-anak mulai diajarkan salat pada usia 7 tahun, dan diberikan didikan yang tegas namun tidak membahayakan ketika menginjak usia 10 tahun jika masih meninggalkannya.
Selain itu, Islam juga memberikan kemudahan bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik; salat tetap wajib dilaksanakan dalam kondisi apapun, mulai dari berdiri, duduk, berbaring, hingga menggunakan isyarat mata atau hati bagi yang tidak mampu bergerak.
Menutup rangkaian khotbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk senantiasa menjaga ibadah ini. “Ayo salat sampai mati, berselawat jangan berhenti,” pesan Ustaz Abdul Kholik kepada para jamaah.***

