Strategi Terselubung Industri Rokok: Sasar Identitas, Gaya Hidup, hingga Budaya Sosial Remaja

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Pengda Bali, Ni Made Dian Kurniasari, mengungkapkan industri rokok kerap tidak lagi menampilkan produk atau nikotin secara terang-terangan, melainkan mengasosiasikannya dengan citra positif.

11 September 2026, 18:09 WIB

Jakarta -Strategi pemasaran produk tembakau dan rokok kini telah bergeser dari cara konvensional menjadi pendekatan yang melekat pada identitas serta gaya hidup masyarakat.

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Pengda Bali, Ni Made Dian Kurniasari, mengungkapkan industri rokok kerap tidak lagi menampilkan produk atau nikotin secara terang-terangan, melainkan mengasosiasikannya dengan citra positif.

“Pendekatan tersebut dibangun melalui berbagai lini, mulai dari sponsor kegiatan olahraga hingga acara musik,” ungkapnya dalam Workshop Media digelar Lemhaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jumat (11/9/2026).

Dalam praktiknya, industri rokok sering kali menghadirkan booth atau area kreatif di berbagai festival agar merek mereka melekat sebagai bagian dari pengalaman dan budaya sosial masyarakat.

Dian Kurniasari lanjut memaparkan bentuk strategi pemasaran terselubung yang disoroti.

 Asosiasi Identitas Positif: Rokok dan produk tembakau dikaitkan dengan citra bebas, berani, kreatif, sukses, maskulin, hingga gaya hidup modern.

Penyisipan dalam Acara Olahraga dan Musik: Sponsor kegiatan kerap membangun jargon dan citra positif tanpa harus secara langsung memamerkan batang rokok atau device (perangkat) di hadapan publik.

 Pemanfaatan Influencer: Pemengaruh (influencer) sering kali membahas konten hiburan atau musik sembari menggunakan rokok elektrik (vape), sehingga membangun persepsi di masyarakat bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari tren, budaya, dan storytelling yang keren.

Menurut Dian, pemasaran produk ini bekerja secara bertahap melalui pembentukan persepsi. Tahapan dimulai dari membangun familiaritas agar produk dianggap normal, menciptakan penerimaan sosial, hingga akhirnya menumbuhkan ketertarikan pada diri konsumen untuk mencoba.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kepekaan terhadap strategi terselubung yang menyasar remaja melalui selipan-selipan gaya hidup, kegiatan aktif, maupun budaya populer agar tidak terjebak untuk menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah atau keren.***

Berita Lainnya

Terkini